Oleh: Joko Lestari
POSKOTA - Bung Karno pernah mengatakan: Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
Ini kata mutiara untuk memotivasi dan menginspirasi kita semua, utamanya pemuda Indonesia agar memiliki cita-cita yang tidak biasa-biasa saja, tetapi luar biasa.
“Kalau menurut kalian gimana?” tanya bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Saya memaknai ada tiga poin penting dari motivasi tersebut,” kata mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Penebar Politik Uang, Blacklist Selamanya
“Apa saja Bro?” tanya Heri.
“Pertama, ajakan agar pemuda Indonesia memiliki cita-cita yang luar biasa. Kalau bermimpi, mimpilah yang belum dimimpikan orang lain. Kedua, ajakan untuk selalu mencoba mewujudkan cita-cita melalui upaya nyata. Kalau kemudian gagal, bukanlah gagal pada sesuatu yang biasa-biasa saja.
Ketiga, upaya nyata dilaksanakan dengan melakukan perubahan untuk menggapai tujuan seperti yang dicita-citakan,” jelas mas Bro.
“Setuju harus ada perubahan diri. Jangan harap dapat merengkuh kesuksesan kalau diri sendiri tidak mau berubah. Tidak memulai perubahan,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Jauhi Narkotika Dengan Gaya Hidup Berolahraga
“Kadang banyak orang teriak perubahan. Ingin mengubah orang - orang di sekitarnya menjadi lebih baik, tapi dirinya sendiri tidak mampu berubah menjadi lebih baik karena terbelenggu dengan kenyamanan,” jelas mas Bro.
“Yang ironis, ada yang sering berteriak untuk mematuhi hukum, jangan sekali – sekali melanggar peraturan, bahkan mari kita antikorupsi, malah dirinya menjadi koruptor. Itu namanya omdo (omong doang),” urai Yudi.
“Itu soal berubah menjadi lebih baik, lantas bagaimana upaya menggapai cita-cita setinggi langit?” kata Heri.
“Setuju membuat cita – cita harus tinggi, misalnya ingin menjadi bupati, gubernur atau bahkan presiden sekalipun, itu sah-sah saja. Namun, harus tetap realistis,” ujar Yudi.
“Betul juga harus melihat kemampuan diri. Punya modal nggak. Dan, bicara modal politik bukan cuma dukungan parpol , juga soal keuangan. Tak hanya mengandalkan elektabilitas, kapabilitas dan akseptabilitas, juga integritas. Belum lagi bicara soal moralitas,” jelas mas Bro.
“Wah. Kalau mikirin itu semua, bagaimana kita memimpikan cita-cita setinggi langit, Bro” ujar Yudi.
“Kalau memimpikan sesuatu boleh -boleh saja, yang penting mempersiapkan diri. Kalau ingin jadi pejabat, jadilah pejabat yang merakyat. Jika ingin jadi kepala daerah , jadilah kepala daerah untuk memajukan daerahnya dan menyejahterakan warganya. Bukan dirinya dan keluarganya,” jawab mas Bro.
“Jadi sudah cita-citanya tinggi, mulia lagi karena semuanya dilakukan demi kemaslahatan umat, bukan kerabat dekat,” ujar Heri.