Cerita Warga Tanah Tinggi di Balik Rencana Penataan 445 RW Kumuh di Jakarta

Senin 04 Mei 2026, 18:11 WIB
Titin dan Sumiyati saat berbincang di kawasan rumahnya di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Senin, 4 Mei 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Titin dan Sumiyati saat berbincang di kawasan rumahnya di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Senin, 4 Mei 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Titin mengaku saat ini hanya mengontrak rumah dengan biaya sekitar Rp600 ribu per bulan.

Terkait rencana relokasi, sebagian warga tidak menolak. Mereka bersedia dipindahkan asalkan disediakan hunian yang layak, seperti rumah susun (rusun).

“Kalau dipindah ke rusun, saya mau,” ujarnya.

Baca Juga: Kejar Target, 7.000 Warga di Kawasan Kumuh Pulogadung Terima Vaksinasi Covid-19

Meski begitu, keterikatan emosional dengan lingkungan yang telah dihuni puluhan tahun membuat sebagian warga masih ingin bertahan.

Hal serupa disampaikan Sumiyati, 50 tahun warga lainnya yang telah lama tinggal di kawasan tersebut. Ia menyoroti kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit, termasuk tuberkulosis (TB).

“Kalau ada yang sakit TB, kita jadi waswas juga,” katanya.

Menurutnya, kondisi lingkungan yang padat mempercepat penyebaran penyakit di tengah masyarakat.

Baca Juga: 49 Persen Wilayah Jakarta Ternyata Kawasan Kumuh

Meski berada di bantaran kali, Sumiyati menyebut banjir tidak terlalu sering terjadi. Ia mengingat banjir besar terakhir terjadi pada 2019, namun air cepat surut.

“Kalau hujan berhenti, air langsung surut, tidak sampai berhari-hari,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengerukan kali dilakukan secara rutin untuk mencegah pendangkalan.


Berita Terkait


News Update