Ilustrasi Obrolan Warteg edisi Selasa, 21 April 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Nah Ini Dia

Obrolan Warteg: Wong Tegal Guyub Rukun

Selasa 21 Apr 2026, 09:46 WIB

Oleh :Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID  – Tak hanya guyub rukun, penuh kekeluargaan dan kegotongroyongan, tapi komunikasi sambung rasa tanpa sekat, tanpa membedakan latar belakang status sosial dan ekonominya, begitu terasa.

Itulah gambaran suasana halal bihalal warga Tegal di Jabodetabek yang digelar Minggu malam, 19 April 2026, di Pusbekang AD, Jl Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur. Itulah jati diri ‘peseduluran salawase’ masyarakat Tegal.

Halal bihalal digelar oleh Perkumpulan Keluarga Kabupaten Tegal – Slawi Ayu ( PKKT –SA) yang difasilitasi Kapusbekangad, Mayjen TNI Arif Hartoto, selaku ‘tuan rumah “ acara. Beliau asli Kendalserut, Slawi.

Ribuan warga tumplek blek di ballroom hingga menyebar ke pelataran sekitar tempat acara digelar. Sambil kangen –kangenan, dapat menikmati hidangan yang disajikan, termasuk aneka kuliner khas Tegal yang diboyong ke Jakarta khusus untuk acara halal bihalal.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Cegah Kader Ujug -Ujug

“Wah keren. Siapa yang memboyong aneka kuliner ke Jakarta?,” tanya bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Siapa lagi kalau bukan pak Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman dan Wakil Bupati Tegal, Ahmad Kholid yang hadir di acara, sekaligus memberikan sambutan,” kata mas Bro.

“Sepertinya kamu hadir di acara tersebut Bro?,” tanya Heri.

“Kalau nggak hadir bisa kualat sama pak Darmawan, Ketum PKKT–SA dan mas Edy Budiyarso, Ketua Harian PKKT – SA. Belum lagi dengan mas Hartoyo, mantan pejabat Ditjen Pajak yang juga teman seperjuangan,via WA mengingatkan: Sudah sampai mana mas Jokles?, ditunggu,” urai mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Mendesak, Pembahasan RUU Pemilu yang Baru

“Jadi karena ketiga tokoh tadi sampeyan hadir,” tanya Yudi.

“Oh tidak, Saya hadir atas kesadaran untuk menjalin silaturahmi. Tetapi, bahwa ketiga tokoh tadi patut diteladani benar adanya.Ketiga sahabat tadi tiada henti membangun kepedulian dan kebersamaan demi kemaslahatan. Tak hanya waktu, tenaga, pikiran dicurahkan, juga finansial,” jelas mas Bro.

“Lantas ketemu teman – teman lama dong?,” tanya Heri.

“Tidaklah salah silaturahmi membawa keberkahan. Banyak ketemu orang Tegal yang hebat – hebat menjadi pejabat tinggi baik di pemerintahan maupun swasta. Tanpa diduga ketemu mas Fadly Hasan, Direktur Bisnis dan Pemanfaatan Aset PT Transjakarta. Kita sering menyebutnya sebagai teman ngopi juga dengan Master Limbad, ternyata tetangga sebelah rumah di kampung,” urai mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Elok, Sudah Bersama, Masih Curiga

“Konon, Pak Mayjen TNI Arif Hartoto tak berkenan tampil di depan memberi sambutan utama,” kata Yudi.

“Beliau sepertinya lebih memberi kesempatan yang lain untuk tampil di panggung. Sementara dirinya tampil layaknya undangan lainnya. Itulah gambaran pemimpin yang merakyat, rendah hati,” kata mas Bro.

“Jadi ingat konsep Lau Tzu. Pemimpin yang baik berada di depan saat bahaya,dan berada di belakang saat perayaan. Dapat dimaknai, pemimpin maju paling depan untuk menanggung segala risiko, mundur ke belakang (tidak menonjolkan diri) saat merayakan keberhasilan,” urai Heri.

Tags:
Jakartahalal bihalal warga Tegalobrolan warteg

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor