JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kilogram dari sebelumnya Rp192 ribu per tabung menjadi Rp228 ribu per tabung, atau mengalami kenaikan sebesar 18,75 persen.
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023 dan berlaku di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat.
Kebijakan tersebut langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat, khususnya kelompok menengah yang selama ini menjadi pengguna utama LPG nonsubsidi 12 kg.
Kenaikan harga yang cukup signifikan dinilai semakin menambah beban pengeluaran rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Dari Kesetaraan Menuju Dampak, Telkom Dorong Perempuan Ambil Peran di Garis Depan Kepemimpinan
Farhan 33 tahun, mengaku kenaikan harga gas ini terasa memberatkan. Ia menuturkan bahwa harga LPG 12 kg yang terus merangkak naik tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang signifikan.
“Kalau membebani sih pasti mas, karena saya pakai gas 12 kg ini dari harga masih Rp150 ribuan, sekarang sudah hampir Rp250 ribuan. Gaji juga enggak naik signifikan, tapi kebutuhan pokok naik terus,” ujar Farhan kepada Poskota, Selasa, 21 April 2026.
Meski begitu, Farhan mengaku tidak memiliki banyak pilihan untuk beralih ke jenis gas lain. Ia menyadari bahwa LPG 3 kg merupakan subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.
“Kalau beralih kayaknya enggak bisa mas, karena tabung 3 kg itu kan untuk subsidi. Jadi tetap harus pakai 12 kg,” ucap Farhan.
Baca Juga: Harga LPG Non Subsidi 5,5 Kg dan 12 Kg Naik, Menteri ESDM Bahlil Pastikan LPG 3 Kg Tetap Aman
Ia menjelaskan, penggunaan LPG 12 kg di rumahnya tergolong hemat karena tidak setiap hari memasak dalam jumlah besar. Dalam kondisi normal, satu tabung bisa bertahan hingga dua bulan, bahkan lebih lama jika hanya digunakan untuk kebutuhan sederhana.
“Kalau saya sih yang jarang masak, pakai 12 kg itu berasa awet sampai dua bulanan. Kalau enggak masak-masak, bisa sampai empat bulan, cuma buat angetin makanan, masak air, atau mie instan,” kata Farhan.
Namun demikian, Farhan tetap harus menyesuaikan pengeluaran agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi. Ia mengaku mulai mengatur ulang prioritas belanja demi menyiasati kenaikan harga.
“Kalau saya sih tetap dialokasikan untuk gas, karena itu kebutuhan pokok di dapur. Strateginya paling kita kurangi biaya belanja, makan yang sehat-sehat saja, sebisa mungkin di kondisi ekonomi sekarang harus hemat,” ungkap dia.
Baca Juga: Jemaah Haji 2026 Berangkat Tepat Waktu, Jemaah Masuk Asrama 21 April hingga Puncak Arafah Mei
Ia juga mulai mempertimbangkan alternatif lain seperti penggunaan kompor listrik, meski masih dalam tahap perhitungan.
“Sekarang lagi mantau juga apakah pakai kompor listrik lebih hemat atau tidak, masih dipelajari sih,” ujar dia.
Hal serupa juga dirasakan Lydia 26 tahun, yang mengaku terkejut dengan lonjakan harga LPG 12 kg, terutama setelah berpindah tempat tinggal. Ia mengatakan bahwa sebelumnya menggunakan LPG 12 kg biru, namun sempat beralih ke tabung 3 kg karena jarang memasak.
“Jujur gua kaget banget sama 12 kg. Di komplek sekarang dipasangin yang merah itu, Bright Gas, dan itu udah mahal dari yang biru. Kemarin beli masih Rp200 ribuan, sekarang mau naik lagi,” ujar Lydia.
Baca Juga: Berapa Nominal Gaji Manager Kopdes Merah Putih? Segini Perkiraannya
Menurut Lydia, kondisi di lingkungannya tidak memberikan banyak pilihan karena LPG 3 kg sulit didapatkan. Hal ini membuatnya terpaksa tetap menggunakan LPG nonsubsidi meskipun harganya semakin tinggi.
“Mau banget sih balik ke 3 kg, tapi di sini, di Cikarang, susah dapetinnya. Jadi mau enggak mau tetap pakai yang mahal,” katanya.
Ia juga menyoroti posisi kelompok masyarakat menengah yang dinilai paling terdampak dalam situasi ini.
“Yang pakai 12 kg itu sebenarnya mampu, tapi bukan crazy rich juga. Banyak golongan tengah, dibilang miskin enggak, dibilang kaya juga enggak. Jadi ya kerasa banget naiknya,” ungkapnya.
Lydia berharap ada intervensi dari pemerintah untuk menjaga keseimbangan harga dan ketersediaan energi bagi masyarakat.
“Paham sih mungkin lagi kondisi ekonomi global, tapi jangan sampai nyusahin rakyat juga. Harusnya ada intervensi,” ucapnya.
Kenaikan harga LPG 12 kg ini kembali menegaskan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok menengah yang tidak tersentuh subsidi namun tetap harus berhadapan dengan lonjakan harga kebutuhan pokok. (cr-4)
