POSKOTA.CO.ID - Bencana alam yang terjadi di Sumatera Barat beberapa bulan lalu telah meluluhlantakan beberapa wilayah diantaranya di Balai Gadang, Koto Tangah, Kota Padang. Kesedihan pascabencana Sumatera memang tak seharusnya terus diratapi. Para penyintas harus dapat kembali pada kehidupannya seperti sebelumnya.
Melihat hal tersebut, sejumlah dosen dan mahasiswa yang ada di Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) kompak bergerak bantu penyintas. Salah satu kampus ternama di Minangkabau ini meluncurkan program
Mona Amelia salah satu dosen yang ikut tergabung dalam program tersebut menjelaskan gerak dan langkah UPGRISBA sebagai nyata bentuk kepedulian. Mereka yang terlibat yakni sebanyak 2 dosen dan 50 mahasiswa dari program pendidikan ekonomi, pendidikan akuntansi dan kewirausahaan.
“UPGRISBA menunjukkan komitmen nyatanya dalam pemulihan ekonomi masyarakat melalui program pengabdian masyarakat,” ujar Mona Amelia, Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPGRISBA.
Baca Juga: Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas
Mona mengungkapkan dibawah naungan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, UPGRISBA meluncurkan program mahasiswa berdampak. Dengan mengusung tema Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana Tahun 2026 di pusatkan di Balai Gadang, Koto Tangah, Kota Padang.
“Dibawah naungan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, UPGRISBA meluncurkan program "Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana Tahun 2026 di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang,” ungkap Mona.
Mona menjelaskan programnya dilakukan di Balai Gadang karena dampak bencana yang signifikan. Ia menekankan kegiatan ini difokuskan pada transformasi usaha peternakan sapi menuju ekonomi kreatif serta penguatan peran Karang Taruna sebagai motor penggerak ekonomi lokal.
“Sempat terpukul oleh bencana alam pada akhir tahun 2025 lalu yang berdampak signifikan pada sektor ekonomi warga. Di Balai Gadang, para peternak sapi menghadapi hambatan serius dalam memulihkan kondisi finansial mereka, dimana Kami melihat peternakan masih sangat tradisional. Orientasinya hanya menjual sapi hidup, sehingga keuntungan yang didapat sangat terbatas dan rentan terhadap fluktuasi harga pasar pasca bencana,” kata Mona.

Sebagai pimpinan dalam program, Mona memberikan salah satu terobosan utama dalam pendampingan ini adalah digitalisasi dan diversifikasi produk. Mahasiswa dan dosen UPGRISBA melatih warga untuk tidak lagi membuang limbah ternak, melainkan mengolahnya menjadi pupuk organik bernilai tinggi.
Bersama mahasiswanya, Mona mengambil berbagai Langkah untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Diantara langkah untuk meningkatkan nilai tambah dengan mengubah limbah menjadi produk yang memiliki harga jual di pasar pertanian.
“Langkah lainnya efisiensi biaya yang dapat membantu petani lokal mendapatkan akses pupuk murah dan berkualitas. Ada pula dari segi ramah lingkungan dengan mengurangi dampak polusi lingkungan dari kotoran ternak di area pemukiman,” jelas Mona.
Program ini tidak hanya menyasar para peternak, tetapi juga melakukan penguatan kapasitas Karang Taruna Kelurahan Balai Gadang. Pemuda setempat diposisikan sebagai penggerak utama (motor penggerak) dalam rantai ekonomi kreatif ini, sehingga keberlanjutan program tetap terjaga di masa depan.
Pihak Pemerintah Kelurahan Balai Gadang memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Transformasi ini diharapkan dapat mengubah wajah peternakan di Padang dari sekadar usaha sampingan menjadi sektor industri kreatif yang tangguh menghadapi tantangan di masa depan.
