Selanjutnya, Itho LBH berharap proses hukum dapat berjalan transparan dan memberikan efek jera. Bagi tokoh publik seperti Feri Amsari diharapkan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.
Dalam sebuah forum di program televisi, Fery mempertanyakan klaim swasembada beras yang kerap disampaikan pemerintah. Ia menilai sejumlah indikator di lapangan tidak sejalan dengan narasi surplus produksi yang digaungkan.
“Kalau memang swasembada, mestinya harga beras itu turun. Itu indikator paling sederhana untuk melihat kejujuran data,” tutur dia.
Dalam kesempatan itu, Fery juga mempertanyakan validitas data yang digunakan untuk mendukung klaim tersebut, termasuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian. Feri menyebut, sebagian publik mulai meragukan akurasi data produksi dan luas lahan pertanian yang selama ini dijadikan rujukan.
“Kalau panen melimpah, tidak mungkin kita masih impor. Ini yang jadi pertanyaan,” pungkasnya.
