2025 kasus ditutup rapat dengan dalih 'menjaga nama baik departemen'
2026 korban angkat suara mencari keadilan," tulis akun @ipb_menfess.
Di tengah ramainya perbincangan publik, akun @ipb_menfess juga mengungkap adanya pengakuan dari pihak yang disebut sebagai korban.
Dalam narasi yang beredar, korban diduga telah memendam tekanan psikologis terkait dugaan pelecehan verbal tersebut selama kurang lebih dua tahun.
Lebih jauh, disebutkan bahwa para korban tidak berani melaporkan kasus tersebut ke pihak kampus karena adanya dugaan ancaman dari lingkungan internal.
Para korban kabarnya diancam tidak akan lulus ospek jurusan jika menyebarkan chat tak senonoh tersebut ke orang luar departemen.
Kondisi ini kemudian memunculkan keprihatinan publik terkait dugaan adanya relasi kuasa yang tidak seimbang di lingkungan akademik, serta potensi pembungkaman terhadap korban.
Baca Juga: HMT ITB Minta Maaf usai Lagu ‘Erika’ Viral, Liriknya Dinilai Lecehkan Perempuan dan Bermuatan Vulgar
IPB Buka Suara
Menanggapi ramainya pemberitaan dan perbincangan di media sosial, pihak Institut Pertanian Bogor akhirnya memberikan pernyataan resmi.
Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB, Alfian Helmi, menegaskan pihak kampus mengecam segala bentuk perilaku yang merendahkan harkat dan martabat manusia.
Ia juga menyampaikan bahwa IPB saat ini tengah melakukan penanganan awal terhadap dugaan kasus yang beredar di masyarakat.
"Terkait adanya laporan dugaan kasus pelecehan seksual di kalangan mahasiswa yang diperbincangkan di media sosial, IPB University mengecam segala bentuk perilaku yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Saat ini IPB University tengah melakukan langkah-langkah penanganan terhadap dugaan kasus pelecehan seksual dimaksud," kata Alfian dalam keterangannya.
