POSKOTA.CO.ID - Jagat maya tengah diramaikan oleh viralnya video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB), pada Rabu, 15 April 2026.
Fenomena viral ini tidak hanya menarik perhatian karena unsur hiburan yang ditampilkan, tetapi juga karena isi lirik lagu yang dinilai kontroversial.
Kontroversi bermula dari unggahan akun X @iPoopBased pada Senin (13/4/2026), yang membagikan video berdurasi 3 menit 55 detik.
Dalam rekaman tersebut, terlihat suasana panggung yang meriah dengan mahasiswa laki-laki dan perempuan berjoget mengikuti irama musik.
Atmosfer yang semula tampak sebagai hiburan internal berubah menjadi polemik setelah publik mencermati isi lirik yang dinyanyikan secara bersama-sama.
Penyebaran video tersebut memicu berbagai reaksi, mulai dari kritik keras hingga perdebatan terkait batasan ekspresi dalam lingkungan kampus.
Namun, perhatian publik tertuju pada penggalan lirik yang dianggap tidak pantas dan merendahkan martabat perempuan, yakni "Erika buka celana sambil bawa botol Fanta, siapa mau boleh coba, pinggulnya lebar pasti terbuka".
Seiring viralnya video tersebut, perhatian publik tidak hanya tertuju pada isi lagu, tetapi juga pada asal-usulnya.
Lantas, siapa pencipta lagu Erika ITB yang tengah viral di jagat maya? Berikut jejak dan identitas di balik lirik lagu kontroversialnya.
Baca Juga: Apa Isi Lirik Lagu Erika ITB yang Viral Dinyanyikan Mahasiswa Tambang? Diduga Lecehkan Perempuan
Siapa Pencipta Lagu Erika ITB?
Penelusuran menunjukkan bahwa lagu “Erika” bukanlah karya baru. Lagu ini disebut telah ada sejak puluhan tahun lalu dan menjadi bagian dari repertoar Orkes Semi Dangdut di lingkungan HMT ITB.
Melansir cuitan akun X @hendrifisnaeni, Lagu berjudul "Erika" ini disebut sebagai lagu kebangsaan OSD HMT-ITB.
OSD (Orkes Semi Dangdut) merupakan bagian dari HMT (Himpunan Mahasiswa Tambang) ITB.
Hal ini menunjukkan bahwa lagu tersebut memiliki posisi khusus dalam tradisi internal kelompok tersebut.
Tagline-nya "Atas nama dangdut dan cinta". Keberadaan OSD menjadi salah satu bentuk ekspresi seni dan kreativitas mahasiswa di lingkungan kampus.
Dinamakan Orkes Semi Dangdut karena orkes ini tidak seutuhnya menjadikan dangdut sebagai unsurnya, namun juga mengambil jenis-jenis musik yang lain.
Perpaduan genre ini menjadi ciri khas yang membedakan OSD dari kelompok musik lainnya.
Cikal bakal OSD muncul tahun 1978 dan personel awal OSD terbentuk pada 1979. Sejak saat itu, kelompok ini mulai berkembang dan membangun identitasnya di lingkungan kampus.
Masuknya dua personal baru menambah lagu-lagu OSD. Nama OSD mulai dipakai. Seiring waktu, eksistensi mereka semakin dikenal, tidak hanya di internal kampus tetapi juga dalam berbagai ajang kompetisi.
OSD mengikuti dan meraih banyak penghargaan dari lomba-lomba musik dangdut. Prestasi tersebut memperkuat posisi mereka sebagai salah satu kelompok musik mahasiswa yang cukup berpengaruh.
Setelah lama vakum, OSD diaktifkan lagi pada 1994 hingga kini. Keberlanjutan ini menunjukkan bahwa OSD bukan sekadar komunitas sementara, melainkan bagian dari tradisi panjang yang terus diwariskan antar generasi mahasiswa.
Baca Juga: Viral Harga Kaos Kaki hingga Rp100 Ribu? Ini Penjelasan BGN Soal Anggaran Rp6,9 Miliar
Klarifikasi dan Permohonan Maaf dari HMT-ITB
Menanggapi polemik yang berkembang, Himpunan Mahasiswa Tambang ITB (HMT-ITB) merilis pernyataan resmi pada Rabu, 15 April 2026.
Dalam pernyataan tersebut, organisasi mengakui adanya kelalaian dan menyampaikan permohonan maaf kepada publik, khususnya perempuan yang merasa dirugikan.
"Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik. HMT-ITB tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu," tulis pernyataan resminya di X.
Pernyataan ini menjadi bentuk tanggung jawab organisasi sekaligus upaya meredam polemik yang terus berkembang di ruang publik.
HMT-ITB menjelaskan, Orkes Semi Dangdut telah berdiri sejak 1970-an, sementara lagu Erika diciptakan pada era 1980-an.
Meski demikian, mereka mengakui bahwa, membawakan lagu tersebut pada masa kini merupakan bentuk kelalaian karena tidak mempertimbangkan perkembangan norma sosial.
Sebagai langkah tindak lanjut, HMT-ITB menyatakan telah berkoordinasi untuk menurunkan (take down) seluruh video dan audio terkait dari berbagai platform, termasuk konten serupa yang pernah diunggah sebelumnya.
Selain itu, organisasi juga berjanji akan melakukan evaluasi internal secara menyeluruh terhadap seluruh kegiatan dan standar etika organisasi agar lebih selaras dengan nilai-nilai kampus dan masyarakat.
HMT-ITB menegaskan, komitmennya untuk memperketat pengawasan terhadap setiap unit kegiatan guna mencegah kejadian serupa terulang.