Biaya Haji 2026 Berpotensi Naik, Harga Avtur dan Rupiah Melemah Jadi Penyebab

Rabu 08 Apr 2026, 16:45 WIB
Ilustrasi. Biaya penerbangan haji 2026 berpotensi naik hingga 40 persen. Faktor utama berasal dari konflik Timur Tengah, harga avtur, dan kurs rupiah. Pemerintah cari solusi lindungi jemaah. (Sumber: Pexels/Ceha Rabbani)

Ilustrasi. Biaya penerbangan haji 2026 berpotensi naik hingga 40 persen. Faktor utama berasal dari konflik Timur Tengah, harga avtur, dan kurs rupiah. Pemerintah cari solusi lindungi jemaah. (Sumber: Pexels/Ceha Rabbani)

Perubahan rute ini juga berdampak pada waktu tempuh yang lebih lama hingga empat jam, serta peningkatan konsumsi avtur yang diperkirakan mencapai 11.000 ton.

Maskapai Ajukan Tambahan Biaya Jemaah

Sejumlah maskapai yang terlibat dalam penyelenggaraan haji turut mengajukan penyesuaian biaya. Garuda Indonesia, misalnya, mengusulkan tambahan sekitar Rp7,9 juta per jemaah.

Sementara itu, Saudi Airlines juga mengajukan tambahan biaya sebesar 480 dolar AS per jemaah, seiring meningkatnya beban operasional penerbangan.

“Kondisi ini menegaskan penyelenggaraan haji tahun ini berada dalam tekanan faktor global yang semakin kompleks, sehingga diperlukan penguatan efisiensi, koordinasi, dan mitigasi untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan haji,” tuturnya.

Baca Juga: Modus Haji Ilegal Kian Marak, Kemenhaj dan KJRI Jeddah Ingatkan Risiko hingga Sanksinya

Presiden Prabowo Minta Biaya Tambahan Tidak Dibebankan ke Jemaah

Meski ada potensi kenaikan biaya yang cukup besar, pemerintah memastikan tengah menyiapkan berbagai skema agar beban tersebut tidak ditanggung oleh calon jemaah haji. Presiden Prabowo disebut telah memberikan arahan tegas terkait hal ini, dengan meminta agar kebijakan yang diambil tidak memberatkan masyarakat.

“Terkait kemungkinan-kemungkinan penambahan biaya yang terkait dengan penerbangan pemerintah sudah mulai membicarakan ini, yang intinya Presiden Prabowo berharap apapun yang terjadi, jika terjadi kenaikan beliau minta tidak dibebankan kepada jamaah haji kita,” tutur Irfan.

Saat ini, pemerintah terus melakukan perhitungan kebutuhan anggaran secara matang. Berbagai langkah mitigasi juga tengah disiapkan untuk memastikan penyelenggaraan ibadah haji tetap berjalan optimal.

Upaya efisiensi dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama agar potensi kenaikan biaya tidak berdampak langsung pada calon jemaah, sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan haji di tengah tekanan global yang semakin kompleks.


Berita Terkait


News Update