Lusi menjelaskan banyak warga, terutama ibu rumah tangga, yang berjualan kecil-kecilan untuk membantu kebutuhan keluarga.
“Di sini bisa cari duit. Ibu-ibu bisa jualan, walaupun tidak seberapa tapi lumayan buat kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Ia menyebut beberapa warga berjualan makanan ringan seperti cilok, minuman es, hingga berdagang kecil di sekitar permukiman.
Baca Juga: Warga Kampung Bilik Menanti Kepastian Relokasi, Kenangan Terkubur Perluasan Lahan Pemakaman
Relokasi Rusun Dinilai Belum Menjawab Kekhawatiran Warga
Pemerintah diketahui menawarkan hunian rumah susun (rusun) sebagai solusi relokasi bagi warga terdampak. Namun sebagian warga masih mempertimbangkan keputusan tersebut.
Lusi mengaku telah tinggal di Kampung Bilik selama sekitar 25 tahun sehingga merasa khawatir kehilangan sumber penghasilan jika harus pindah ke lokasi baru.
“Kalau pindah, belum tentu bisa cari uang seperti di sini,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat menyiapkan solusi hunian yang lebih pasti bagi warga terdampak penggusuran.
Baca Juga: DPRD DKI Ingatkan Pemprov Jakarta Relokasi Warga Kampung Bilik Harus Perhatikan Aspek Kemanusiaan
Warga lainnya, Budi, 56 tahun , menceritakan bahwa kawasan Kampung Bilik awalnya merupakan lahan empang atau tempat budidaya ikan.
Menurutnya, warga mulai membeli lahan secara bertahap meskipun tanpa legalitas resmi.
“Awalnya tanah empang, kemudian dijual sepetak-sepetak. Kami dulu beli juga, tapi memang tanpa legalitas,” kata Budi.
