Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Darurat energi sebagai dampak perang Iran vs AS-Israel adalah masalah jangka pendek yang memerlukan solusi jangka pendek juga.
Hemat energi melalui pembatasan pembelian BBM merupakan solusi jangka pendek yang sudah dilakukan sejumlah negeri.
Seperti pemerintah militer Myanmar membatasi pembelian BBM dengan skema ganjil genap, di mana mobil hanya diperbolehkan mengisi BBM maksimal dua kali seminggu.
Negara kita,baru menerapkan pembatasan pembelian BBM mulai hari ini, 1 April 2026. Itu pun yang dibatasi adalah pembelian BBM bersubsidi seperti pertalite dan solar/biosolar.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Kembali ke Fitri
Kendaraan bermotor perseorangan untuk angkutan orang dan/atau barang roda empat paling banyak 50 liter/hari/kendaraan.
“Pembatasan yang cukup longgar ya,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Betul cukup longgar. Dengan mobil jenis City Car, 50 liter bisa digunakan untuk tiga hari kerja Bekasi – Jakarta pp,” ujar Yudi.
“Ini pembatasan untuk mengedukasi masyarakat agar hemat menggunakan BBM, tidak jor- joran sebagai upaya mengantisipasi dan mengatasi akan terjadinya krisis energi akibat perang yang masih berkecamuk di Timur Tengah,” urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Bukan Zamannya Mengadu Domba
“Jadi pembatasan ini lebih tepatnya disebut pembelian wajar sesuai kebutuhan ya,” kata Yudi.
“Bukan hanya pembelian saja yang wajar sesuai kebutuhan, penggunaannya kudu wajar juga, jangan berlebihan meski memiliki kemampuan untuk membeli 100 liter per hari,” kata mas Bro.
“Memangnya ada mobil dengan kapasitas tangki seratus liter?,” tanya Yudi.
“Loh banyak, utamanya mobil-mobil jenis SUV ukuran besar, apalagi yang sudah dimodifikasi kapasitas tangki di atas seratus liter,” kata mas Bro.
“Tapi mobil jenis itu kan tidak menggunakan BBM bersubsidi,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Anak, Cucu, hingga Cicit Perusahaan
“Hemat BBM harus dilakukan oleh semua kalangan, baik kalangan atas, menengah dan bawah. Tak hanya yang menggunakan BBM bersubsidi saja, juga pengguna BBM non subsidi, meski dengan harga tinggi masih mampu membeli,” tegas mas Bro.
“Setuju Bro. Hemat energi harus menjadi kepedulian semua pihak. Dengan hemat energi, termasuk BBM, kita sudah ikut berkontribusi terhadap negeri dalam mengatasi krisis energi,” jelas Heri.
“Maksudnya yang subsidi dibatasi, yang non subsidi atas kesadaran sendiri,” kata Yudi.
“Prinsipnya hemat energi itu perlu, terlebih yang bahan bakunya masih impor. Yang bahan bakunya tinggal menggali-ngebor saja seperti air, juga harus hemat penggunaanya demi kelestarian lingkungan hidup kita, “ jelas mas Bro.
“Bukan cuma energi dan air, kita juga harus hemat pangan, meski sudah swasembada beras, jangan lantas masak berlebihan, akhirnya terbuang,” kata Heri mengakhiri obrolan warteg hari ini.