Menurut wanita yang akrab disapa Amel ini, melihat kerumunan masyarakat yang rela mengantre sembako, justru ia mengaku malah merasa miris dan merasa kasihan.
"Apalagi yang datang banyak ibu-ibu, ads yang sudah lansia. Kan kasian mereka harus antre, takutnya enggak kuat, pingsan kan," tutur dia.
Amel berpandangan bahwa program ini bukan penyelesaian mengatasi kemiskinan ataupun mengatasi masalah perekonomian masyarakat. Ia beranggapan mestinya pemerintah melihat hal ini sebagai masalah serius.
"Artinya ini kalau begini masih banyak masyarakat yang kesusahan, sampai rela datang desak-desakan, antre begini panjang. Kalau saya sih berpandangannya seperti itu," tuturnya.
Wanita yang sempat mengajar di salah satu sekolah swasta ini justru memiiliki pandangan berbeda. Menurutnya, pemerintah semestinya menyiapkan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya untuk rakyat.
"Buka lapangan kerja, jangab malah masyarakat yang miskin malah dikasih sembako. Maaf, kecuali mungkin yang sudah sepuh atau lansia," ucapnya.
"Kalau lapangan kerja ada, masyarakatnya bisa bekerja, sehingga menurut saya pemerintah juga enggak perlu keluar banyak untuk memberikan sembako kepada yang benar-benar membutuhkan ya," tambah Amel.
Bahkan, tambah Amel, masyarakat yang bekerja bisa membeli sendiri kepada pedagang. Hal ini lah yang menurutnya perekonomian berjalan dengan baik dan normal.
"Jadi kalau saya meyakini ketika masyarakatnya mampu, mereka pasti beli. Jadi enggak perlu mengemis dalam kutip ya," ucap dia.
Di lokasi, terdapat sejumlah tenan dari masing-masing wilayah Kota Administrasi Jakarta. Pembagian sembako dilakukan secara teratur, dalam hal ini per wilayah.
Salah satu panitia acara, Lulu menyampaikan, ada sekitar 21 ribu paket sembako yang akan dibagikan kepada masyarakat. Adapun paket sembako yang dibagikan berisikkan 5 kg beras, 1 kg gula pasir, 1 liter minyak goreng, 1 ekoe daging ayam, 1 kg telur ayam, dan satu kaleng sarden.
