Maka, sejak ratusan tahun lalu, uang sudah menjadi bahan/alat/penanda/petanda yang melambangkan kekayaan, kejayaan, kemakmuran sekaligus dominasi dan penjajahan. Uang menggantikan emas dalam sejarah simbol manusia atas cengkraman terhadap semesta. Dulu, hiasan tahta emas selalu menjadi bagian dari ornamen sebuah perangkat raja-raja dan bahkan digunakan dalam banyak bangunan peninggalan zaman purba. Kini hiasan dan simbol uanglah yang jadi ukuran.
Mengingat visi besar Sjafruddin Prawiranegara dalam hal "uang" sangat menarik. Sebab, ia adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi Presiden De Javasche Bank (DJB) di masa-masa akhir tahun (1951-1953).
Ia bersama kawan-kawan yang lain (Jusuf Wibisono, Mohamad Sediono, Soetikno Slamet, Soemitro Djojohadikoesoemo, Sabarudin, Khouw Bian Tie), menasionalisasi DJB menjadi Bank Indonesia sekaligus menduduki jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pertama tahun (1953-1958).
Saat menjadi gubernur itulah ia membuat visi-misi BI yang fundamental: 1)Memajukan ekonomi nasional; 2)Menumbuhkan dan mengembangkan pengusaha pribumi; 3)Merubah sistem ekonomi kolonial menjadi sistem ekonomi nasional; 4)Melakukan kerja sama antara pengusaha pribumi dengan pengusaha asing demi kesejahteraan nasional; 5)Menjadi penjaga kedaulatan uang rupiah dan kedaulatan negara.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mencandra Bisnis Perang Modern
Sayang, visi-misi besar itu hilang. Kini BI menjadi Bank (di) Indonesia, bahkan jadi sarang penyamun yang bahagia saat rupiah terdepresiasi sampai tiga ribu persen.
So, wahai para ksatria Pancasila. Mari warisi visi besar pak Sjaf. Kita harus bangkit. Sebab, sejarah kehancuran negara seringkali karena rusaknya mental serta moral rakyat. Dan, rakyat rusak karena pemimpinnya culas bin serakah. Lalu, pemimpin rusak karena ekonomnya rusak dikarenakan cinta dunia, tahta dan lawan jenis serta takut miskin.
