Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Kadang banyak kita saksikan hal-hal yang aneh, tapi nyata adanya. Perilaku aneh akan menarik perhatian publik karena tadi-tidak lazim dilakukan , tidak seperti yang biasa kita lihat, ganjil, ajaib.
Cukup beralasan, jika terdapat anekdot: jika ingin menjadi perhatian orang, berbuatlah yang aneh-aneh. Misalnya mengendarai sepeda motor dengan menghadap ke belakang, menyatakan cinta dengan memanjat tower biar semuanya dengar dan masih banyak lagi, jika mau yang aneh-aneh. Terlebih jika sebatas hiburan segar untuk diupload di media sosialnya.
“Nah, kalau pejabat publik korupsi, tergolong aneh tidak?,” tanya bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Bukan aneh, tapi terlalu. Menggunakan aji mumpung. Selagi dikasih jabatan dan kekuasaan, maka digunakan hanya untuk memperkaya diri sendiri, keluarganya dan kerabatnya.,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Car Free Night di Malam Takbiran
“Padahal jabatan itu amanah, kepercayaan yang dititipkan. Mestinya jabatan itu digunakan untuk memberi manfaat kepada mereka yang menitipkan, dalam hal ini adalah rakyat. Bukan disalahgunakan untuk merugikan rakyat. Korupsi apa pun bentuknya jelas merugikan rakyat,” jelas mas Bro.
“Lantas yang aneh yang seperti apa?,” tanya Yudi lagi.
“Ya, kebijakan aneh. Kebijakan yang jelas-jelas telah merugikan rakyat masih diteruskan, itu namanya aneh. Ucapan dan perbuatan sementara oknum pejabat, elite politik yang menyakitkan hati rakyat, masih terus dipertontonkan. Aneh juga, jika terdapat oknum pejabat hanya sibuk membangun pencitraan, tapi minim kenyataan,” kata mas Bro.
“Tapi pejabat menguatkan pencitraan, menaikkan popularitas bukan hal yang aneh lagi sekarang.Karena sudah sering kita saksikan, publik pun tampaknya sudah memakluminya,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Bukan Perbanyak Pahala, Malah Tambah Dosa
“Menjadi aneh, jika membangun pencitraan penuh dengan kepalsuan. Atraksi politik yang dipertontonkan di depan publik, hanyalah, tipuan, kamuflase belaka,” kata mas Bro.
“Tapi tak semua pejabat seperti itu, Bro,” protes Yudi.
“Sangat setuju. Kepala daerah jumlahnya ratusan, pejabat ribuan, puluhan ribu di semua tingkatan. Tapi gara-gara segelintir oknum terjerat korupsi,lainnya ikut tercoreng. Ibarat pepatah: nila setitik, rusak susu sebelanga,” urai mas Bro.
“Kasihan ya,pejabat yang bersusah payah membangun kepercayaan masyarakat, dengan tulus ikhlas turun ke bawah, menyambangi warganya menyerap aspirasi, mencarikan solusi, bisa dinilai lain, mencari panggung pujian,” jelas Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Masjid Tempat Singgah Para Pemudik
“Pujian tak perlu dicari. Pujian akan datang sendiri setelah terukir prestasi. Masyarakat semakin cerdas menilai pejabat yang sarat dengan aksi, tapi minim prestasi.Mengumbar janji,tapi sudah setahun belum juga terpenuhi,” kata Yudi.
“Apa perlu kita-kita ini juga bikin yang aneh-aneh untuk menarik perhatian,” tanya Heri.
“Selain tak punya modal untuk bikin yang aneh-aneh, kita jalani saja apa adanya, Nggak perlu yang aneh-aneh,” kata mas Bro mengakhiri obrolan warteg.