“Kadang enggak ketemu. Masyarakat maunya apa, pemerintah maunya apa, ini enggak ketemu. Akhirnya ketika pemerintah menyampaikan kebijakan, enggak kena di level masyarakat,” ujarnya.
Ghozi mengaku perjalanan hidupnya yang beragam, mulai dari aktivis mahasiswa, pelaku usaha, hingga teknokrat sebagai tenaga ahli, membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan kebijakan dari berbagai perspektif.
“Saya selalu melihat banyak perspektif dalam dunia ini, dan mudah-mudahan dari perspektif ini saya bisa melihat kacamata yang lebih paripurna dalam membuat satu kebijakan,” katanya.
Di DPRD DKI Jakarta, Ghozi dikenal sebagai anggota dewan muda yang aktif memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dan terjun ke politik karena ingin menjembatani aspirasi warga dengan kebijakan pemerintah.
“Pertama memang berangkat dari keresahan bahwa masih banyak permasalahan di Jakarta yang perlu kita tuntaskan. Saya melihat ada gap, problem utamanya masalah komunikasi. Masyarakat menginginkan sesuatu, pemerintah mengimplementasikan sesuatu, tapi enggak ketemu,” ucapnya.
Baca Juga: Warga Kebayoran Lama Khawatir Longsor Susulan, Berharap Turap Segera Dibangun
“Saya merasa butuh satu rantai yang bisa menghubungkan antara masyarakat dengan negara atau pemerintah sehingga ketemu apa yang dimau,” kata dia.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Jakarta Timur, Ghozi juga banyak menyoroti persoalan ketenagakerjaan. Ia melihat banyak anak muda usia produktif di wilayah industri yang justru kesulitan mendapatkan pekerjaan.
“Daerah saya banyak pabrik, banyak industri, tapi juga banyak anak muda produktif yang belum mendapatkan pekerjaan. Jadi seperti lapar di tengah lumbung padi,” ungkapnya.
Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah kurangnya akses informasi terhadap program pelatihan kerja dan peningkatan keterampilan yang disediakan pemerintah.
“Ternyata banyak program dari Pemprov, baik di Sudin maupun Balai Latihan Kerja, yang tidak terinfokan dengan baik kepada masyarakat,” jelasnya.
Selain ketenagakerjaan, ia juga menyoroti persoalan hunian di Jakarta yang menurutnya masih menjadi masalah serius bagi generasi muda. Ia menyebut kebutuhan hunian di Jakarta mengalami backlog yang cukup besar setiap tahunnya, sementara jumlah rumah yang tersedia masih jauh dari kebutuhan.
