JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak cuaca panas terhadap kesehatan tubuh.
Kondisi suhu yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Kepala Dinkes Jakarta, Ani Ruspitawati menyampaikan, panas terik dapat memicu sejumlah masalah kesehatan, mulai dehidrasi hingga heatstroke.
"Secara umum kalau cuaca panas dari kesehatan, kekurangan cairan (dehidrasi) , kelelahan (heat exhaustion), hingga heatstroke," kata Ani kepada Poskota, Sabtu, 14 Maret 2026.
Baca Juga: Warga Keluhkan Panas Terik di Tengah Puasa, Antisipasi Pakai Sunscreen hingga Topi
Ani mengatakan, cuaca panas dapat menimbulkan gejala pusing, kram otot, gangguan pada sistem kardiovaskular, gangguan pernapasan, hingga iritasi pada kulit.
"Paparan dari cuaca panas yang tinggi bisa memicu pusing, kram otot, gangguan kardiovaskular, pernapasan, dan bisa juga terjadi iritasi kulit," ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat cuaca panas ekstrem.
Kelompok tersebut antara lain pekerja lapangan yang banyak beraktivitas di luar ruangan, anak-anak, ibu hamil, serta lanjut usia (lansia).
Baca Juga: Awal Ramadhan 2026 Mulai Kapan? Gerhana Matahari Cincin Jadi Penentu Astronomis
"Kelompok rentan tentu pekerja lapangan, anak-anak, ibu hamil, dan LANSIA risiko tertinggi mengalami dampak kesehatan akibat cuaca panas (ekstrem)," ucapnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Dinkes Jakarta mengimbau masyarakat mengonsumsi cukup cairan serta mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada siang hari.
"Untuk antisipasi secara umum, Konsumsi banyak air putih jangan menunggu haus," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan pola konsumsi makanan dan minuman selama cuaca panas, karena beberapa jenis makanan dan minuman dapat mempercepat terjadinya dehidrasi.
"Mengurangi minuman maknan dan minuman yang membuat dehidrasi seperti makanan dengan kandungan garam tinggi, kopi dan teh," tuturnya.
Selain itu, ia juga menyarankan masyarakat mengenakan topi hingga baju lengan panjang, serta membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan pada saat cuaca sedang terik.
Baca Juga: Tanggal Berapa Gerhana Matahari Cincin 2026? Cek Daftar Wilayah yang Bisa Menyaksikan
"Menggunakan pakaian ringan longgar, dan sebisa mungkin menggunakan topi atau payung saat keluar ruangan, membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat siang hari," ujar dia.
Sementara itu, masyarakat diminta menjaga suhu ruangan tetap sejuk juga dapat membantu mengurangi dampak panas terhadap tubuh.
"Di dalam ruangan menggunakan pendingin ruangan (AC) / kipas angin supaya menjaga suhu ruang," pungkasnya. (cr-4)
