JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan longsornya gunungan sampah di TPST Bantargebang yang menewaskan empat orang berdampak langsung pada sistem pengelolaan sampah di ibu kota.
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta memutuskan untuk menutup sementara Zona 4A di TPST Bantargebang. Selama proses penanganan berlangsung, pengiriman sampah dari Jakarta akan dialihkan ke Zona 3. Selain itu, dua titik tambahan juga tengah disiapkan sebagai lokasi penampungan sementara.
“Sebagai langkah mitigasi, layanan di Zona 4A ditutup sementara. Pengiriman sampah ke TPST Bantargebang diminimalkan operasionalnya, dialihkan ke Zona 3, serta disiapkan dua titik baru sambil dilakukan perapihan,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin.
Penutupan Bersifat Sementara
Pramono menegaskan bahwa penutupan Zona 4A tidak bersifat permanen. Aktivitas pengiriman sampah dari Jakarta ke TPST Bantargebang tetap berjalan dengan pengaturan baru.
Baca Juga: Longsor Sampah Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Pramono Anung Ungkap Pemicu Utamanya
Menurutnya, hanya Zona 4A yang ditutup sementara, sedangkan Zona 3 masih digunakan untuk menampung sampah. Sementara itu, dua titik tambahan yang telah dipersiapkan di lapangan akan membantu menampung sampah selama proses penanganan berlangsung.
“Yang ditutup hanya di Zona 4A. Tetapi di Zona 3 tetap digunakan untuk menampung dan dua lagi yang sudah dipersiapkan di lapangannya,” jelasnya.
Ia berharap proses penanganan di Zona 4A dapat segera diselesaikan sehingga tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan terhadap sistem pengelolaan sampah Jakarta.
“Saya sudah meminta agar ini tidak berkepanjangan, sebab kalau berkepanjangan maka Jakarta pasti akan terganggu,” kata Pramono.
Baca Juga: Longsor Sampah di Bantargebang Timbulkan Korban Jiwa, DPRD Jakarta: Keselamatan Prioritas Utama
Produksi Sampah Jakarta Capai 8.000 Ton per Hari
Pramono juga mengungkapkan bahwa volume sampah yang dihasilkan warga Jakarta setiap hari mencapai sekitar 7.400 hingga 8.000 ton. Jumlah tersebut biasanya meningkat pada akhir pekan.
“Sekarang ini harian sampah kita antara 7.400 sampai dengan 8.000 ton. Angka 8.000 ton biasanya terjadi pada akhir pekan,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemprov Jakarta berencana memperkuat sistem pemilahan sampah dari hulu hingga hilir. Langkah ini dilakukan agar tidak seluruh sampah langsung dikirim ke TPST Bantargebang yang kapasitasnya semakin terbatas.
“Kami akan melakukan proses pemilahan di ujung sekaligus mengatur agar tidak semuanya dikirimkan ke Bantargebang. Karena daya tampung Bantargebang memang sudah sangat terbatas,” kata Pramono.
Baca Juga: Cegah Kelelahan Kerja, Sopir Truk Sampah Bantargebang Jalani Skrining Kesehatan
Pemprov Dorong Operasional RDF Rorotan
Selain memperkuat pemilahan sampah, Pemprov Jakarta juga mendorong percepatan operasional fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di RDF Rorotan, Jakarta Utara.
Menurut Pramono, fasilitas tersebut saat ini masih dalam tahap penyelesaian proses commissioning agar dapat segera beroperasi secara optimal.
“Kami sedang melakukan proses commissioning di RDF Rorotan. Mudah-mudahan segera selesai sehingga fasilitas tersebut bisa beroperasi normal,” ujarnya.
Meski kapasitas pengolahannya tidak sesuai dengan target awal, Pramono menilai kemampuan mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari sudah cukup membantu mengurangi beban sampah Jakarta.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Bikin Antrean Truk Sampah di TPST Bantargebang Mengular hingga 8 Jam
“Jika bisa mengolah sekitar 1.000 ton per hari, itu sudah sangat baik untuk operasional saat ini dan bisa mengurangi sampah secara signifikan,” jelasnya.
Pramono menambahkan bahwa kebijakan pemilahan sampah akan mulai diperkuat agar sistem pengelolaan sampah Jakarta tidak lagi sepenuhnya bergantung pada TPST Bantargebang.
Selama ini, sebagian besar sampah dari Jakarta langsung dikirim ke Bantargebang tanpa melalui proses pemisahan. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta akan mulai menerapkan sistem pemilahan yang lebih terstruktur sesuai arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
“Selama ini hampir sebagian besar sampah tidak dipisahkan dan langsung dikirim ke Bantargebang. Sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup, kami akan mulai melakukan pemisahan sampah secara lebih sistematis,” kata Pramono. (cr-4)