Panduan I’tikaf di Masjid pada 10 Malam Terakhir Ramadhan, Lengkap dengan Rukun dan Adabnya

Senin 09 Mar 2026, 21:00 WIB
Suasana umat Muslim melaksanakan i’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk memperbanyak ibadah dan mencari malam Lailatul Qadar. (Sumber: Pinterest)

Suasana umat Muslim melaksanakan i’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk memperbanyak ibadah dan mencari malam Lailatul Qadar. (Sumber: Pinterest)

POSKOTA.CO.ID - Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah i’tikaf di masjid, yakni berdiam diri di rumah ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

I’tikaf bukan sekadar tradisi ibadah tahunan, tetapi memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Praktik ini juga dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mencari kemuliaan Lailatul Qadar.

Berikut ini adalah pengertian i’tikaf, hukum, rukun, tata cara, hingga adab yang perlu diperhatikan oleh umat Muslim ketika menjalankannya.

Baca Juga: Doa Malam Lailatul Qadar yang Dianjurkan Rasulullah SAW, Amalkan di 10 Malam Terakhir Ramadhan

Pengertian I’tikaf dalam Islam

Secara bahasa, i’tikaf berarti menetap atau berdiam diri. Dalam istilah syariat, i’tikaf adalah menetap di masjid dengan niat khusus untuk beribadah kepada Allah SWT dalam waktu tertentu.

Definisi ini dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah yang menyebutkan bahwa i’tikaf merupakan aktivitas berdiam di masjid dengan niat ibadah yang disertai tata cara tertentu sesuai syariat.

Tujuan utama dari i’tikaf adalah memusatkan hati dan pikiran hanya kepada Allah, menjauhkan diri dari kesibukan duniawi, serta memperbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa.

Hukum Melaksanakan I’tikaf

Para ulama sepakat bahwa hukum i’tikaf adalah sunnah. Artinya, ibadah ini sangat dianjurkan namun tidak wajib dilakukan oleh setiap Muslim.

Ulama besar Ibnul Mundzir menjelaskan bahwa kesepakatan para ulama menetapkan i’tikaf sebagai ibadah sunnah, kecuali jika seseorang bernazar untuk melaksanakannya, maka hukumnya menjadi wajib.

Penjelasan ini juga disebutkan dalam kitab Al-Mughni yang menyatakan bahwa seseorang yang bernazar i’tikaf harus menunaikannya sebagaimana nazar ibadah lainnya.

Rasulullah SAW sendiri rutin melaksanakan i’tikaf setiap bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا‏

Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan, selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Al-Bukhari no. 2044)

Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa i’tikaf merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Waktu Terbaik untuk I’tikaf

Pada dasarnya, i’tikaf dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Namun para ulama menyatakan bahwa waktu paling utama untuk melaksanakan i’tikaf adalah pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah RA yang menjelaskan:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ‏‏

Nabi shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya, kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (Muttafaqun alaih)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan Lailatul Qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a, dan banyak berdzikir ketika itu. (Latho-if Al-Ma’arif hal. 338)

Sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keistimewaan karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah dan menghidupkan malam-malam tersebut dengan i’tikaf, doa, dan dzikir.

Kapan Memulai I’tikaf 10 Hari Terakhir?

Para ulama memiliki dua pendapat mengenai waktu mulai i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang yang ingin i’tikaf selama 10 hari terakhir memasuki masjid setelah shalat Subuh pada tanggal 21 Ramadhan.

Namun mayoritas ulama mazhab menganjurkan untuk memasuki masjid sejak sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan, karena perhitungan sepuluh hari tersebut dimulai dari malam hari.

Dengan demikian, seseorang dapat memulai i’tikaf sejak malam pertama dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Rukun I’tikaf yang Harus Dipenuhi

Agar ibadah i’tikaf sah menurut syariat, terdapat beberapa rukun yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Orang yang Beri’tikaf

Orang yang melaksanakan i’tikaf harus seorang Muslim yang berakal dan sudah mumayyiz (mampu membedakan baik dan buruk). I’tikaf tidak sah jika dilakukan oleh orang kafir, orang gila, atau anak kecil yang belum mumayyiz.

Namun baligh dan jenis kelamin bukan syarat mutlak. Anak yang belum baligh tetapi sudah mumayyiz tetap diperbolehkan melakukan i’tikaf.

2. Niat

I’tikaf harus dilakukan dengan niat di dalam hati karena Allah SWT. Tanpa niat yang ikhlas, ibadah ini tidak dianggap sebagai i’tikaf dalam pengertian syariat.

3. Dilakukan di Masjid

I’tikaf harus dilaksanakan di masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah lima waktu. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menegaskan bahwa tempat i’tikaf adalah masjid.

4. Berdiam di Masjid

Orang yang beri’tikaf harus menetap di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Apakah I’tikaf Harus di Masjid Tertentu?

Para ulama menjelaskan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja, selama di dalamnya ditegakkan shalat berjamaah lima waktu.

Imam Malik menjelaskan bahwa keumuman ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa i’tikaf dapat dilakukan di berbagai masjid yang terbuka untuk umum.

Jika masjid tersebut tidak menyelenggarakan shalat Jumat, maka orang yang i’tikaf diperbolehkan keluar untuk melaksanakan shalat Jumat di masjid lain, dan hal itu tidak membatalkan i’tikafnya.

Apakah Boleh I’tikaf di Mushola?

Dalam praktiknya di Indonesia, tempat ibadah memiliki berbagai nama seperti mushola, surau, langgar, atau masjid.

Menurut para ulama, tempat tersebut tetap dihukumi sebagai masjid jika memenuhi beberapa kriteria:

  • Bangunan khusus untuk ibadah
  • Dibuka untuk umum
  • Digunakan untuk shalat berjamaah lima waktu

Namun mushola yang berada di kantor atau tempat tertentu yang tidak terbuka untuk umum biasanya tidak dianggap sebagai masjid dalam konteks i’tikaf.

Lama Waktu I’tikaf

Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas maksimal waktu i’tikaf. Namun mereka berbeda pendapat mengenai batas minimalnya.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menurut pendapat mayoritas ulama, i’tikaf sah dilakukan dengan berdiam di masjid dalam waktu lama maupun singkat, bahkan hanya beberapa saat saja.

Karena itu, seseorang dianjurkan untuk selalu berniat i’tikaf ketika memasuki masjid agar mendapatkan pahala tambahan meskipun hanya singgah sebentar.

Hal yang Membatalkan I’tikaf

Beberapa hal yang dapat membatalkan i’tikaf antara lain:

  • Berniat dengan sengaja membatalkan i’tikaf
  • Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i
  • Melakukan hubungan suami istri
  • Larangan tersebut juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 187.
  • Hal yang Diperbolehkan Saat I’tikaf

Meskipun seseorang sedang beri’tikaf, ada beberapa aktivitas yang tetap diperbolehkan, seperti:

  • Keluar masjid untuk kebutuhan mendesak (makan atau buang hajat)
  • Makan dan minum
  • Tidur di dalam masjid
  • Berbicara hal yang baik
  • Berwudhu atau merapikan diri
  • Menggunakan parfum atau minyak rambut

Namun aktivitas jual beli di dalam masjid sebaiknya dihindari karena bertentangan dengan adab rumah ibadah.

Baca Juga: 5 Persiapan Penting Saat Itikaf Agar Ibadah Lebih Nyaman dan Khusyuk

Adab I’tikaf yang Dianjurkan

Ketika menjalankan i’tikaf, seorang Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan menjaga adab di dalam masjid.

Beberapa amalan yang dianjurkan selama i’tikaf antara lain:

  • Memperbanyak shalat sunnah
  • Membaca Al-Qur’an
  • Berdzikir
  • Berdoa
  • Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Selain itu, orang yang beri’tikaf juga dianjurkan untuk menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi kekhusyukan ibadah, seperti berbicara sia-sia, ghibah, atau melakukan perbuatan dosa.

I’tikaf sejatinya menjadi momen bagi seorang Muslim untuk menyucikan hati, memperbaiki niat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

I’tikaf merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Amalan ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan memiliki banyak keutamaan, terutama dalam upaya mencari malam Lailatul Qadar.

Dengan memahami hukum, rukun, tata cara, dan adab i’tikaf, umat Muslim dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih khusyuk dan sesuai tuntunan syariat.

Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan ibadah terbaik, termasuk melaksanakan i’tikaf di masjid.


Berita Terkait


News Update