POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Situasi yang memburuk ini mendorong sejumlah negara Asia mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi warga negaranya dari wilayah yang dianggap rawan konflik.
Upaya evakuasi dilakukan untuk melindungi keselamatan warga negara yang masih berada di sekitar area terdampak perang. Sejumlah pemerintah bahkan menyiapkan penerbangan khusus untuk mempercepat proses pemulangan.
Laporan kantor berita Xinhua pada Sabtu, 7 Maret 2026 menyebutkan bahwa beberapa negara telah mulai memindahkan warganya dari negara-negara di sekitar zona konflik guna menghindari potensi ancaman keamanan.
Baca Juga: China Tuduh AS Kecanduan Perang, Sebut Washington Sumber Kekacauan Global
China dan Korea Selatan Bergerak Cepat

China menjadi salah satu negara yang segera mengeksekusi rencana evakuasi. Lebih dari 260 warga negara China berhasil keluar dari Iran dengan menyeberang ke Azerbaijan melalui koordinasi Kedutaan Besar China di Teheran.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Korea Selatan. Pemerintah di Seoul memindahkan puluhan warganya dari beberapa negara Timur Tengah yang terdampak situasi keamanan yang memanas.
Sebanyak 65 warga Korea Selatan dipindahkan dari Qatar menuju Arab Saudi. Sementara itu, 41 warga lainnya meninggalkan Yordania menggunakan penerbangan komersial dengan bantuan Kedutaan Korea Selatan di Amman.
Selain itu, warga Korea Selatan juga dievakuasi dari Kuwait, Bahrain, Israel, dan Irak menuju negara-negara tetangga yang dinilai lebih aman.
Pemerintah Korea Selatan bahkan tengah menyiapkan pesawat khusus untuk mengevakuasi warganya yang masih berada di kawasan tersebut.
Ribuan Warga Korsel Terjebak di Uni Emirat Arab
Situasi di Uni Emirat Arab menjadi perhatian serius pemerintah Korea Selatan. Gangguan penerbangan akibat konflik membuat sekitar 3.000 warga negara mereka masih tertahan di negara tersebut.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah Seoul berencana menyewa pesawat berkapasitas 290 kursi dari maskapai Etihad Airways.
Pesawat itu dijadwalkan berangkat dari Abu Dhabi pada Minggu untuk membawa pulang warga Korea Selatan yang masih berada di wilayah tersebut.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mempercepat proses evakuasi di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan di Timur Tengah.
Australia dan Indonesia Ambil Langkah Antisipatif
Selain China dan Korea Selatan, pemerintah Australia juga mengeluarkan imbauan kepada warganya yang berada di Timur Tengah untuk segera meninggalkan kawasan tersebut.
Otoritas di Canberra menyarankan warga negara Australia menggunakan penerbangan komersial yang masih tersedia untuk keluar dari wilayah konflik secepat mungkin.
Indonesia juga mulai melakukan evakuasi terhadap warganya dari Iran. Pada tahap pertama, sebanyak 32 warga negara Indonesia (WNI) telah berhasil dipindahkan melalui Azerbaijan akibat meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
Secara keseluruhan terdapat sekitar 329 hingga 386 WNI yang berada di Iran. Sementara itu, lebih dari 519 ribu WNI tinggal di berbagai negara Timur Tengah, dengan jumlah terbesar berada di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga: Balas Dendam Iran Makin Ganas, Gelombang Serangan ke-9 Sasar Israel dan Target AS
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran terus memantau perkembangan situasi dan menjalin komunikasi dengan para WNI yang masih berada di wilayah tersebut.
Eskalasi Perang Regional di Timur Tengah
Ketegangan di kawasan Asia Barat meningkat drastis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu pekan lalu.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, ratusan siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat, fasilitas diplomatik, serta sejumlah kota di Israel.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar di Timur Tengah.
Kondisi tersebut juga mendorong banyak negara mempercepat proses evakuasi warga mereka dari wilayah yang dianggap berbahaya.