Ini Alasan Utama Toyota Tak Ambil Proyek Pick Up Koperasi Merah Putih

Sabtu 07 Mar 2026, 17:04 WIB
Ilustrasi Toyota menjelaskan alasan tak bisa memenuhi pengadaan pick up untuk Koperasi Merah Putih. (Sumber: Toyota)

Ilustrasi Toyota menjelaskan alasan tak bisa memenuhi pengadaan pick up untuk Koperasi Merah Putih. (Sumber: Toyota)

POSKOTA.CO.ID - PT Agrinas Pangan Nusantara sebelumnya mengundang sejumlah produsen otomotif yang memiliki fasilitas produksi di Indonesia untuk berdiskusi terkait pengadaan kendaraan pick up dalam program Koperasi Desa Merah Putih.

Program ini direncanakan membutuhkan kendaraan dalam jumlah besar untuk mendukung operasional koperasi di berbagai daerah.

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyampaikan bahwa pihaknya telah menggelar pertemuan dengan beberapa produsen otomotif besar, termasuk Toyota.

Namun, tidak semua perusahaan dapat memenuhi permintaan pengadaan kendaraan tersebut.

Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Abdul Karim Resmikan Koperasi Samawa Akar Nusantara: Motor Baru Ekonomi Desa

Menurut Joao, salah satu kendala utama yang muncul dalam proses pembahasan adalah terkait kapasitas produksi dan kesesuaian harga kendaraan.

“Yang menjadi isu utama kan kami membeli dalam jumlah yang besar. Jadi kami menawarkan membeli secara bulk atau secara gelondongan. Seharusnya kami bisa diberikan harga yang lebih ekonomis agar lebih efektif dan bisa memenuhi anggaran,” ujar Joao.

Toyota Akui Belum Bisa Penuhi Permintaan

Menanggapi hal tersebut, pihak Toyota membenarkan bahwa diskusi dengan Agrinas memang sempat berlangsung. Namun hingga saat ini, perusahaan belum dapat memenuhi permintaan pengadaan kendaraan pick up untuk program tersebut.

Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Jap Ernando Demily, menjelaskan bahwa terdapat beberapa persyaratan yang belum menemukan titik temu antara kedua pihak, terutama terkait jenis kendaraan dan harga yang diharapkan.

Baca Juga: 112 Orang Ikut Pelatihan Koperasi Merah Putih di Kantor Wali Kota Jakbar

“Kenapa keputusannya kita tidak bisa fulfill, ya mohon maaf salah satunya contohnya jenis kendaraan dan harga. Itu kita belum menemukan titik temu. Kalau masalah production capacity, sebenarnya masih bisa didiskusikan secara bertahap,” kata Ernando.

Harga Pick Up Dinilai Terlalu Rendah

Ernando tidak mengungkapkan secara detail angka harga yang diajukan oleh Agrinas dalam pembahasan tersebut. Namun ia memberi gambaran bahwa harga yang diharapkan berada di bawah harga pasar kendaraan pick up 4x4 milik Toyota saat ini.

Sebagai contoh, salah satu model pick up Toyota, Toyota Hilux Double Cabin, saat ini dijual dengan harga sekitar Rp456 juta.

“Contohnya Hilux Double Cabin itu harganya Rp456 juta. Tapi teman-teman juga perlu mencermati struktur biaya dari kendaraan tersebut,” jelas Ernando.

Baca Juga: Pemotor di Bogor Tewas usai Adu Banteng dengan Pick Up

Lebih lanjut, Ernando menjelaskan bahwa harga kendaraan tidak hanya berasal dari biaya produksi mobil saja. Dalam struktur harga kendaraan di Indonesia terdapat berbagai komponen tambahan seperti pajak kendaraan, pajak barang mewah, hingga biaya administrasi.

Menurutnya, kendaraan pick up dengan sistem penggerak 4x4 memiliki beban pajak yang relatif tinggi. Hal ini karena kendaraan jenis tersebut sering dianggap memiliki penggunaan ganda, baik untuk kebutuhan komersial maupun pribadi.

“Harga mobil itu dari On The Road. Kalau dihitung lebih detail ada harga kendaraannya sendiri, kemudian ada luxury tax, ada BBN, dan komponen lain. Pick up 4x4 di Indonesia pajaknya cukup tinggi karena dianggap penggunaannya lebih banyak untuk personal,” terang Ernando.

Dengan kondisi tersebut, Toyota menilai sulit untuk memenuhi permintaan harga yang diajukan dalam proyek pengadaan kendaraan pick up untuk program Koperasi Desa Merah Putih.


Berita Terkait


undefined
SERBA-SERBI

Ekonomi Kita Anti Koperasi

Rabu 18 Feb 2026, 07:31 WIB

News Update