Sidang isbat dijadwalkan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama di Jakarta.
Biasanya, rangkaian sidang dimulai pada sore hari menjelang waktu Magrib dan diikuti dengan berbagai tahapan pembahasan sebelum keputusan akhir diumumkan.
Setelah proses sidang selesai, Menteri Agama Nasaruddin Umar akan menyampaikan hasil penetapan awal Syawal kepada masyarakat melalui konferensi pers yang disiarkan secara luas oleh berbagai media.
Di sisi lain, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah melalui metode perhitungan astronomi.
Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan organisasi tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan ini dilakukan jauh hari sebelumnya karena metode hisab memungkinkan perhitungan posisi bulan dilakukan secara matematis tanpa menunggu hasil pengamatan langsung di lapangan.
Meski demikian, perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah bukanlah hal baru di Indonesia.
Dalam beberapa tahun, tanggal Idulfitri bisa saja sama atau berbeda tergantung hasil pengamatan hilal dan perhitungan yang digunakan masing-masing pihak.
Baca Juga: Apa Itu Status PTKP? Ini Arti K3, K0, TK0, HB hingga K2 yang Wajib Diketahui Pekerja
Tahapan Proses Sidang Isbat Penentuan 1 Syawal
Dalam pelaksanaannya, sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah dilakukan melalui beberapa tahapan penting yang saling melengkapi.
1. Hisab atau Perhitungan Astronomi
Tahap awal yang dilakukan adalah hisab, yaitu proses perhitungan astronomi untuk mengetahui posisi hilal atau bulan sabit setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadan.
Perhitungan ini dilakukan oleh para ahli falak dengan menggunakan data astronomi yang akurat.
.jpg)