POSKOTA.CO.ID - Bermain sepakbola selama 90 menit penuh lari, duel, dan sprint di bawah terik matahari atau sorot lampu stadion, sambil perut kosong dan tenggorokan kering karena puasa bayangkan betapa beratnya.
Itulah realitas yang dihadapi puluhan pesepakbola profesional Muslim setiap Ramadan.
Namun, yang menakjubkan, banyak dari mereka justru tetap tampil all-out, bahkan mencetak gol krusial bagi timnya.
Ramadan 2026, yang berlangsung dari pertengahan Februari hingga pertengahan Maret (mulai sekitar 17-18 Februari hingga 18-19 Maret tergantung sighting bulan), menjadi ujian spesial.
Baca Juga: Deretan Bintang Sepak Bola Dunia yang Taat Ibadah, Nomor 7 Hafiz 19 Juz
Bulan suci ini tak hanya soal ibadah, tapi juga persiapan besar bagi atlet menjelang Piala Dunia 2026 di Juni-Juli mendatang di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Jeda Sakral di Lapangan Hijau

Liga Premier Inggris menunjukkan komitmen inklusif dengan kebijakan "natural pause". Saat waktu buka puasa tiba (iftar), wasit mencari momen alami seperti throw-in, goal kick, atau bola keluar lapangan untuk memberi jeda singkat sekitar 1-2 menit.
Pemain seperti Mohamed Salah (Liverpool) dan Ibrahima Konaté bisa segera mengisi energi dengan minuman elektrolit atau gel di pinggir lapangan.
"Kami menghormati aspek spiritual sebagai bagian dari profesionalisme atlet. Jeda ini memastikan kesetaraan bagi semua pemain," demikian pernyataan resmi Liga Premier.
Di negara lain, pendekatan bervariasi. Jerman dan Italia lebih fleksibel tanpa aturan ketat, sementara Spanyol menyerahkan sepenuhnya ke tim medis klub.
Baca Juga: Ancaman Rudal Iran Meningkat, Cristiano Ronaldo Amankan Jet Pribadinya ke Madrid
Namun di Prancis, Federasi Sepakbola (FFF) tegas melarang penghentian pertandingan untuk alasan agama, sehingga pemain seperti Achraf Hakimi (PSG) harus menahan hingga babak kedua tantangan berat yang menuntut ketahanan ekstra.
Antara Kelelahan Fisik dan Kebanggaan Mental
Striker Maidstone United, Mo Faal, memberikan gambaran nyata. Pada 24 Februari 2026, ia mencetak gol penyeimbang meski timnya bermain imbang 1-1 melawan Dorking.
"Normalnya saya fit 100 persen, tapi saat puasa, tenaga seperti tinggal separuh," ujarnya kepada Kent Online.
"Menit ke-45-50, tubuh sudah lemes, tapi saya terus memotivasi diri: 'Kuat, masih ada cadangan'. Itu esensi Ramadan mendorong batas mental dan membuktikan tubuh bisa lebih dari yang dibayangkan."
Di level elite, Mohamed Salah tetap jadi sorotan. Meski Liverpool mengalami kekalahan di final Piala Liga dan tersingkir dari Liga Champions, mantan bek Man City Micah Richards memuji: "Jangan lupa, Salah sedang puasa. Level energinya tak sama, tapi dia masih bisa tampil di level itu itu luar biasa."
Baca Juga: Iran Terancam Absen di Piala Dunia 2026? Konflik AS-Israel Bikin Nasib Tim Melli Di Ujung Tanduk
Kunci: Nutrisi, Hidrasi, dan Tidur Berkualitas
Menurut Dr. Vincent Gouttebarge dari FIFPRO, performa bisa dipertahankan dengan manajemen tepat: nutrisi pasca-buka, hidrasi malam hari, dan tidur berkualitas. "Tantangan terbesar adalah gangguan ritme tidur karena sahur dan pola makan berubah," jelasnya.
Klub top seperti Liverpool, Real Madrid, dan Manchester City memanfaatkan teknologi pelacak tidur untuk pemain seperti Antonio Rüdiger dan Hakan Çalhanoğlu. Rüdiger sendiri mengaku puasa justru memperkuat mentalnya: "Puasa sulit, tapi itu membuat pikiran lebih tangguh."
Di Saudi, Semua Mulai Setelah Buka Puasa
Saudi Pro League menggeser jadwal pertandingan ke malam hari (sekitar pukul 22:00-23:00 waktu setempat), setelah iftar. Pemain non-Muslim seperti Cristiano Ronaldo bahkan mencoba puasa beberapa hari sebagai penghormatan budaya langkah yang diapresiasi luas.
Bekal Emas Menuju Piala Dunia 2026
Pengalaman Ramadan 2026 jadi modal berharga. Banyak timnas dari negara mayoritas Muslim (Maroko, Senegal, Tunisia, Aljazair, Mesir) akan berpartisipasi di Piala Dunia. Mereka belajar dari klub Eropa soal nutrisi, hidrasi, dan recovery menjadi kurikulum wajib tim medis.
Tantangan Toleransi dan Langkah Inklusif
Tak selalu mulus. Saat Leeds United vs Manchester City (28 Februari 2026), jeda buka puasa disambut cemoohan sebagian suporter terhadap pemain City yang puasa (Rayan Cherki, Omar Marmoush, Rayan Aït-Nouri).
Pep Guardiola bereaksi tegas: "Ini dunia modern. Kita harus hormati keyakinan dan keberagaman."
Di sisi positif, banyak klub menggelar "Open Iftar" di stadion seperti Stamford Bridge, Old Trafford, dan Villa Park ribuan orang dari berbagai latar belakang buka puasa bersama, mengubah rivalitas jadi ruang harmoni.
Pelajaran Abadi dari Lapangan Hijau
Ramadan 2026 segera berlalu, tapi pelajarannya kekal. Bagi pemain Muslim, ini soal keseimbangan iman dan prestasi.
Bagi klub, bukti sains dan empati bisa bersatu. Dan bagi sepakbola dunia, Ramadan jadi laboratorium inklusivitas—membuat olahraga terpopuler ini semakin ramah bagi semua.
Dari cerita para bintang ini, kita belajar: empati dan ketangguhan bisa mengalahkan segala keterbatasan. Selamat menjalani sisa Ramadan semoga penuh berkah dan harmoni.
