Artinya, jika seseorang tetap menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa, maka secara fikih puasanya tetap sah.
Namun, sah belum tentu diterima secara sempurna di sisi Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa menjalankan kewajiban lain berisiko kehilangan nilai kesempurnaannya.
Baca Juga: Waspada! 5 Hal Ini Bisa Hanguskan Pahala Puasa Ramadhan
Hubungan Antara Shalat dan Puasa
Puasa di bulan Ramadan sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia menjadi sarana pembinaan ketakwaan secara menyeluruh.
Tidak shalat tapi puasa menunjukkan adanya ketimpangan dalam menjalankan kewajiban agama. Shalat diwajibkan setiap hari, sementara puasa hanya satu bulan dalam setahun.
Jika kewajiban harian yang lebih utama ditinggalkan, tentu hal ini menjadi persoalan serius.
Sebagian ulama bahkan mengingatkan bahwa meninggalkan shalat dapat menghapus pahala amal lainnya. Meski terdapat perbedaan pendapat dalam detail hukumnya, seluruh ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat adalah dosa besar yang tidak boleh diremehkan.
Baca Juga: 5 Tradisi Unik Ramadhan Khas Indonesia yang Penuh Makna
Apakah Masih Ada Harapan?
Jawabannya: masih ada, selama seseorang mau bertaubat.
Ramadan justru menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri. Daripada meninggalkan puasa karena merasa belum sempurna dalam shalat, lebih baik tetap menjalankan puasa sembari mulai memperbaiki shalat secara bertahap.
Langkah kecil seperti menjaga satu waktu shalat, lalu bertambah hingga lima waktu, adalah bentuk kesungguhan yang sangat bernilai di sisi Allah SWT.
Pentingnya Taubat dan Perbaikan Diri
Islam membuka pintu taubat seluas-luasnya. Seseorang yang menyadari kekeliruannya dan bertekad memperbaiki diri memiliki kedudukan mulia.
