Kondisi fiskal tersebut dinilai menuntut prioritas belanja yang lebih selektif dan menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.
Menanggapi polemik ini, Bupati Bandung Barat, Jeje Richie Ismail mengatakan pemilihan lokasi merupakan kewenangan Sekretariat DPRD (Setwan). Ia mengaku hanya memenuhi undangan.
"Saya hanya menghadiri undangan dari dewan," ucap Jeje.
Baca Juga: Pencarian Korban Longsor di Bandung Barat Dilanjutkan, Tim SAR Temukan 5 Bodypack Tambahan
Meski begitu, publik berharap ada sensitivitas dan keteladanan dari para pemangku kebijakan, terutama di tengah keterbatasan anggaran dan suasana duka bencana.
Sementara itu, Salah satu tokoh Bandung Barat, Asep 45 tahun, yang juga warga Ngamprah, mempertanyakan urgensi lokasi mewah tersebut.
"Kalau memang sedang efisiensi, kenapa harus di hotel bintang lima? Mau promo sekalipun, tetap saja kesannya mewah. Bisa cari tempat yang lebih sederhana," kata Asep.
Hal senada diungkapkan Rina 38 tahun, warga Padalarang. Ia menilai silaturahmi tak harus digelar di tempat berkelas meskipun niatnya baik sebab, bisa melukai hati rakyat terutama warga Bandung Barat.
"Apalagi kebutuhan masyarakat seperti infrastruktur dan layanan dasar masih banyak yang mendesak. Ini yang harus dipiirkan. ucap Rini.
Di tengah seruan penghematan, pilihan simbolik penggunaan anggaran kini menjadi sorotan. Publik pun menunggu komitmen nyata DPRD Bandung Barat dalam mendahulukan kepentingan rakyat di atas seremoni.
