Dengan demikian, Cap Go Meh tetap dirayakan tanpa status hari libur nasional.
Sejarah Singkat Perayaan Cap Go Meh
Secara etimologi, Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien yang berarti 'malam ke-15', yakni hari ke-15 pada bulan pertama kalender lunar.
Tradisi ini bermula pada masa Dinasti Han sekitar abad ke-17 melalui ritual penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Pada awalnya, perayaan tersebut hanya dilakukan di lingkungan istana dan kalangan kerajaan.
Seiring berakhirnya Dinasti Han, tradisi Cap Go Meh mulai menyebar ke masyarakat umum dan berkembang menjadi festival budaya yang dirayakan secara luas, termasuk oleh komunitas Tionghoa di Indonesia.
Baca Juga: 722 Personel Gabungan Amankan Puncak Perayaan Imlek di Lapangan Banteng
Tradisi dan Kuliner Khas Cap Go Meh
Perayaan Cap Go Meh identik dengan berbagai kegiatan budaya dan sajian khas hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Beberapa tradisi yang sering dijumpai antara lain:
- Festival lampion sebagai simbol harapan dan keberuntungan
- Atraksi barongsai sebagai penolak energi buruk
- Perayaan budaya bersama keluarga dan masyarakat
Sementara itu, kuliner khas Cap Go Meh juga menjadi daya tarik tersendiri, di antaranya:
- Mie panjang umur, melambangkan doa panjang usia dan keberkahan
- Lontong Cap Go Meh, berisi lontong, opor ayam, sambal, dan telur rebus sebagai adaptasi lokal dari hidangan yuan xiao
Perayaan Cap Go Meh 2026 di Jakarta menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan budaya sekaligus mempererat toleransi antarumat. Meski bukan hari libur nasional, festival ini tetap menghadirkan suasana meriah sebagai penutup rangkaian Imlek tahun ini.
