POSKOTA.CO.ID - Eskalasi besar terjadi di kawasan Timur Tengah pada Sabtu, 28 Februari 2026, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer terkoordinasi ke wilayah Iran.
Serangan yang digambarkan sebagai pre-emptive strike oleh Israel ini memicu ledakan di Tehran dan beberapa kota besar lain, menandai titik paling genting dalam hubungan ketiga negara tersebut selama satu dekade terakhir.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi itu menyasar puluhan situs militer dan fasilitas strategis yang dianggap mengancam keamanan nasional. Serangan ini, menurut otoritas setempat, merupakan hasil perencanaan selama berbulan-bulan bersama militer Amerika Serikat.
Di Washington, presiden AS menyebut langkah tersebut sebagai “operasi tempur besar-besaran” dengan tujuan melemahkan kemampuan misil Iran dan menekan rezim di Teheran.
Serangan dilakukan setelah berbagai upaya diplomasi mengenai program nuklir Iran dinyatakan gagal dan ketegangan terus meningkat. Berikut adalah fakta-fakta yang perlu diketahui.
Baca Juga: Gejolak Diplomatik AS–Iran Mengganggu Akses Internet dan Sistem Siber Global
Iran Tutup Wilayah Udara dan Luncurkan Respons Cepat
Iran merespons dengan cepat. Tak lama setelah serangan pertama, sirene peringatan berbunyi di sejumlah kota besar. Pemerintah Iran menutup wilayah udara nasional dan mengaktifkan seluruh sistem pertahanan.
Eskalasi ini dengan segera mencapai level tertinggi dalam konflik berkepanjangan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv. Dalam hitungan jam, Iran meluncurkan serangkaian rudal balistik dan drone ke target Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Serangan balasan itu memicu penangguhan rute penerbangan di seluruh wilayah Timur Tengah dan meningkatkan kecemasan global terkait potensi perang regional yang lebih luas.
Pernyataan Presiden AS: Kami Akan Hancurkan Industri Rudal Mereka
Dalam sebuah pidato video yang diunggah ke platform media sosialnya, Presiden Amerika Serikat menyampaikan alasan di balik operasi tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran tengah membangun kembali program nuklirnya sambil meningkatkan kemampuan rudal jarak jauh yang dianggap mengancam pasukan AS, sekutu Eropa, hingga daratan Amerika.
“Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka sampai ke tanah. Itu akan benar-benar dihancurkan total,” ujarnya dalam rekaman tersebut dikutip dari Asharq al-Awsat.
Presiden AS juga menyebut operasi ini sebagai “misi mulia” untuk menghentikan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran agar tidak lagi mengganggu stabilitas kawasan.
Seruan Kepada Warga Iran: “Ambil Alih Pemerintahan Kalian”
Dalam pernyataannya, Presiden AS juga menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran. Ia menyerukan agar masyarakat “memanfaatkan momentum ketika kekuatan militer rezim sedang melemah.”
“Ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan dalam beberapa generasi,” katanya.
Ia turut memperingatkan warga untuk tetap berada di tempat aman karena situasi yang sangat berbahaya. “Bom akan jatuh di mana-mana. Tetaplah di rumah.”
PM Israel: “Kami Menghilangkan Ancaman Eksistensial”
Perdana Menteri Israel menyampaikan bahwa serangan itu dilakukan demi menghilangkan ancaman eksistensial dari Iran, khususnya terkait kemungkinan kepemilikan senjata nuklir.
“Rezim teroris yang kejam ini tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir yang akan mengancam seluruh umat manusia,” katanya dalam sebuah pernyataan video.
Ia bahkan menyerukan warga Iran untuk melawan pemerintah mereka. “Waktunya telah tiba bagi rakyat Iran untuk melepaskan belenggu tirani.”
Baca Juga: Iran Umumkan 40 Hari Berkabung: Tiga Tokoh Ini Ambil Alih Kepemimpinan Usai Kematian Khamenei
Rudal Balistik Menghantam Basis AS dan Israel
Gelombang rudal Iran menargetkan sejumlah instalasi militer AS di kawasan Teluk Arab, termasuk pangkalan di Bahrain yang menjadi markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS.
Serangan juga terdeteksi di Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Yordania. Ledakan dan sirene darurat terdengar di berbagai lokasi tersebut sepanjang malam.
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa operasi balasan akan terus berlanjut hingga “musuh dikalahkan secara telak.”
Konflik Meluas dan Mengancam Stabilitas Regional
Dengan menyasar seluruh aset AS dan Israel di kawasan, Iran menunjukkan bahwa eskalasi ini telah berubah dari konflik bilateral menjadi konfrontasi multi-negara. Para analis memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, stabilitas kawasan yang telah rapuh dapat runtuh sepenuhnya.
Efek geopolitik juga dirasakan di pasar global. Harga energi melonjak, maskapai internasional menutup rute strategis, dan negara-negara di kawasan mulai meningkatkan kewaspadaan militer.
