POSKOTA.CO.ID - Eskalasi konflik Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Penutupan ini merupakan respons langsung atas serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada akhir Februari 2026.
Serangan AS-Israel Tewaskan Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade, gugur dalam operasi militer besar-besaran yang diluncurkan AS dan Israel.
Media negara Iran mengonfirmasi kematiannya di kantornya, diikuti pengumuman masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemimpin Iran tersebut telah tewas, sementara Iran bersumpah membalas dendam.
IRGC Umumkan Penutupan Selat Hormuz

Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz dilakukan menyusul "agresi" terhadap Iran. Melalui siaran radio VHF, IRGC memperingatkan: "Tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz."
Peringatan ini telah diterima oleh kapal-kapal di wilayah tersebut, sebagaimana dilaporkan misi angkatan laut Uni Eropa Aspides.
Akibatnya, lalu lintas kapal komersial di selat tersebut turun drastis hingga 70 persen, dengan banyak perusahaan pelayaran menghentikan perlintasan atau mengalihkan rute.
Dampak Global terhadap Pasokan Minyak
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadi jalur ekspor utama minyak mentah dari negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran sendiri.
Baca Juga: Rencana Prabowo Hentikan Serangan AS-Israel ke Iran, Dino Patti Djalal: Bunuh Diri Politik
Qatar, sebagai salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar dunia, juga mengandalkan selat ini untuk sebagian besar pengiriman.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan porsi signifikan LNG mengalir melalui selat sempit ini setiap harinya.
Penutupan atau gangguan berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, inflasi energi, dan risiko resesi global.
Respons Internasional dan Peringatan Maritim
Kementerian Perkapalan Yunani mengimbau kapal tanker minyak menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz.
Beberapa perusahaan pelayaran besar, termasuk dari Jepang dan Eropa, telah menangguhkan operasi di kawasan tersebut.
Peringatan juga dikeluarkan oleh otoritas maritim internasional, termasuk MARAD AS, yang menyarankan kapal menjaga jarak aman dan memantau advisory terkini.
Meski Iran belum melakukan serangan langsung terhadap kapal, ancaman melalui radio dan penurunan lalu lintas menunjukkan eskalasi serius.
Baca Juga: 14 Tahun Lalu Cak Nun Prediksi Iran Diserang Israel dan AS, Kini Konflik Benar-Benar Pecah
Analis memperingatkan bahwa blokade penuh sulit dipertahankan lama, tetapi gangguan sementara saja sudah cukup mengguncang pasar energi.
Situasi ini terus berkembang cepat, dengan potensi pembalasan lebih lanjut dari Iran dan respons dari koalisi internasional.
Dunia menanti langkah selanjutnya di tengah ketegangan yang mempertaruhkan stabilitas ekonomi global.