Masyarakat yang merantau biasanya menyempatkan diri untuk pulang agar bisa mengikuti tradisi ini bersama keluarga besar. Bahkan, beberapa komunitas juga mengadakan pengajian bersama sebagai bagian dari Megengan.
2. Tradisi Nyadran di Jawa Tengah
Nyadran adalah tradisi yang umum dilakukan masyarakat Jawa Tengah untuk menyambut Ramadan. Tradisi ini melibatkan ritual ziarah kubur/nyekar, membersihkan area makam leluhur, serta mendoakan mereka.
Selain itu, masyarakat juga biasanya membawa makanan untuk dibagikan kepada kerabat atau tetangga sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.
Nyadran tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga sering diadakan secara massal di desa-desa. Kegiatan ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih sangat kental di masyarakat Jawa Tengah.
Seiring berkembangnya zaman, tradisi ini juga dikemas dengan acara keagamaan seperti ceramah dan doa bersama.
3. Tradisi Dugderan di Semarang
Dugderan adalah tradisi khas Semarang yang ditandai dengan pawai budaya dan festival rakyat. Tradisi ini berasal dari suara bedug ("dug") dan petasan ("der"), sesuai namanya, tradisi ini diisi dengan memukul bedug dan menyalakan petasan, yang menandakan awal Ramadan. I
kon utama dari Dugderan adalah Warak Ngendog, sebuah hewan mitologi yang melambangkan akulturasi budaya Arab, Cina, dan Jawa dalam masyarakat Semarang.
Selain parade dan pawai budaya, tradisi ini dilaksanakan sejak pagi hari sampai menjelang Magrib, Dugderan juga menghadirkan pasar malam yang menjual berbagai macam makanan dan pernak-pernik khas Ramadan.
Tradisi ini telah menjadi daya tarik wisata yang cukup dinantikan oleh warga Semarang dan sekitarnya. Pemerintah kota juga turut mendukung tradisi ini dengan mengadakan lomba kreativitas bagi anak-anak untuk menjaga semangat budaya lokal.
Baca Juga: 5 Keutamaan Membaca Al Quran di Bulan Ramadhan, Pahalanya Berlipat dan Jadi Penolong di Hari Kiamat
