Syariat puasa memiliki hikmah yang dalam dan mengajarkan kedisiplinan. Namun, Allah juga memberikan keringanan bagi yang memiliki uzur.
Dalam materi kultum disebutkan bahwa orang sakit atau musafir diperbolehkan mengganti puasa di hari lain. Sementara lansia dan penderita penyakit menahun dapat membayar fidyah sebagai bentuk tanggung jawab ibadah.
Islam adalah agama kasih sayang. Tidak ada syariat yang bertujuan memberatkan.
4. Menggapai Kemuliaan Ramadhan dengan Ibadah dan Kepedulian
Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Karena itu, memperbanyak ibadah sunnah seperti tarawih, witir, dhuha, hingga tahajud sangat dianjurkan.
Namun ibadah ritual tidak cukup. Kepedulian sosial juga harus ditingkatkan. Memberi makanan berbuka, membantu tetangga, hingga berbagi rezeki menjadi wujud empati yang dianjurkan.
“Ibadah dan kepedulian sosial adalah dua sayap yang mengantarkan keberkahan hidup.”
5. Mengenal Qadha dan Fidyah dalam Puasa
Materi kultum ini membahas dua konsep penting: qadha dan fidyah. Bagi yang tidak mampu berpuasa sementara, seperti sakit atau safar, puasa dapat diganti di hari lain (qadha). Sedangkan bagi yang tidak mampu secara permanen, kewajibannya berubah menjadi fidyah.
“Syariat puasa menunjukkan betapa Islam memperhatikan kondisi umatnya,” ujar penceramah.
6. Meraih Ketakwaan melalui Pengendalian Diri
Tujuan utama puasa adalah mencapai ketakwaan. Pengendalian diri menjadi kunci untuk meraihnya.
Puasa melatih seseorang untuk menahan hawa nafsu, menjaga lisan, bersikap jujur, dan bersabar dalam segala keadaan.
“Puasa adalah madrasah kehidupan yang membentuk karakter disiplin dan amanah,” begitu inti pesan kultum.
7. Indahnya Memaafkan di Bulan Suci
Memaafkan adalah akhlak mulia yang sangat dianjurkan, terutama di bulan Ramadhan. Dengan memaafkan, hati menjadi lapang, hubungan sesama manusia membaik, dan pahala dilipatgandakan.
