POSKOTA.CO.ID - Pasca gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, arah elektrifikasi di Indonesia dinilai semakin terarah. Perkembangannya tidak hanya dipengaruhi tren global, tetapi juga preferensi konsumen domestik, kesiapan infrastruktur, serta strategi portofolio industri.
Temuan ini mengacu pada studi Drivers of Change yang dilakukan Inchcape pada Februari 2025 di tujuh negara Asia-Pasifik.
Hasilnya menunjukkan optimisme kuat terhadap kendaraan energi baru atau New Energy Vehicles (NEV).
Secara regional, sebanyak 83 persen responden memiliki pandangan positif terhadap kendaraan elektrifikasi atau listrik.
Baca Juga: Ide Modifiikasi Motor Yamaha Grand Filano Hybrid Bergaya Rally 80-an, Ini Detailnya
Dari jumlah tersebut, 26 persen telah memiliki atau pernah menggunakan kendaraan listrik maupun hybrid, sementara 57 persen menyatakan niat untuk mengadopsinya di masa depan.
Faktor Harga dan Infrastruktur Masih jadi Pertimbangan

Meski sentimen positif tinggi, keputusan membeli kendaraan elektrifikasi tetap rasional. Studi mencatat harga menjadi faktor paling dominan dengan porsi 68 persen.
Selain itu, daya tahan baterai (40 persen) serta ketersediaan infrastruktur pengisian daya (34 persen) juga masih menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga: Geely Tutup IIMS 2026 dengan 1.776 SPK, EX2 Jadi Favorit
Data tersebut menunjukkan bahwa adopsi kendaraan elektrifikasi di Asia-Pasifik berjalan melalui pergeseran bertahap yang digerakkan mekanisme pasar, bukan perubahan mendadak.
Indonesia Tunjukkan Kepercayaan Konsumen yang Kuat
Di antara negara yang disurvei, Indonesia menonjol dari sisi kepercayaan publik. Sebanyak 88 persen responden Tanah Air memandang kendaraan elektrifikasi secara positif, melampaui rata-rata regional.
