JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sejak sahur, sejumlah remaja kelompok bedug dari Kecamatan Pesanggrahan sudah bersiap mengikuti perlombaan tingkat Kota Jakarta Selatan pada hari ke-7 Ramadhan, Selasa, 24 Februari 2026.
Dengan peralatan lengkap, para remaja ini terlihat begitu antusias menantikan perlombaan. Bahkan beberapa di antara mereka sesekali memukul bedug untuk melemaskan jari.
Susasana pun mulai pecah saat pembawa acara melantunkan beberapa pantun pembuka sebagai pertanda telah dimulainya waktu Perlombaan.
Ajang perlombaan festival bedug ini merupakan bentuk gerakan dalam melestarikan kesenian budaya lokal, membina kreatifitas pelaku seni serta menumbuhkan semangat kompetisi para pemuda.
Baca Juga: Perkiraan Malam Lailatul Qadar Ramadhan 2026, Ini Jadwal Malam Ganjil dan Tanda-Tandanya
Beberapa peserta yang mengikuti kegiatan diantaranya terdiri dari 10 peserta yang mewakili Kecamatan di Jakarta Selatan termasuk Kecamatan Pesanggrahan yang menurunkan Tim Pemuda karang taruna Kelurahan Pesanggrahan sebagai jagoannya.
Wakil Walikota Jakarta Selatan, Ali Murtado mengatakan, perlombaan dalam festival bedug ini adalah upaya dalam memaksimalkan kekayaan budaya menjadi destinasi wisata yang harus dipertahankan.
"Sebagaimana arahan Pak Gubernur, bahwa apa yang kita lakukan se-Jogja-nya itu bisa menjadi destinasi wisata. Mungkin konsepnya bisa diperluas lagi, tidak hanya pada lingkup kelurahan, tidak hanya pada lingkup kecamatan ataupun pada lingkup kota maupun provinsi, tapi bisa benar-benar kembali ke masa lalu," kata Ali dalam sambutannya.
"Dimana kita kecil ya, bahwa bedug ada di mana-mana, di gang-gang ada, di masjid-masjid ada, di mushola-mushola ada, dan ini menjadi rangkaian sebuah festival terbaik yang mungkin bisa kita ajukan," ucapnya.
Baca Juga: Masjid Lautze, Simbol Pembauran Islam dan Tionghoa di Jantung Pecinan Jakarta
Menjadi penampil ketiga di dalam perlombaan, tim bedug Kelurahan Pesanggrahan melangkah menuju panggung dan siap unjuk kebolehan di antara 10 kontestan lainnya.
Mereka tampil dengan memadukan pakaian adat Betawi berupa aksen biru muda metalik beserta aransemen kolaboratif yang mencampur tabuhan bedug dengan pukulan gambang kromong.
Tim bedug ini tampil dengan koreografi yang cepat, kompak, dan bernuansa tradisional namun tetap modern.
Dalam pelaksanaannya, para peserta diberikan kesempatan untuk menunjukkan penampilan terbaiknya dengan durasi waktu kurang dari 10 menit.
Baca Juga: Lautan Manusia dan Aroma Takjil, Benhil Jadi Magnet Kuliner Ramadan di Jakarta
Penampilan mereka di panggung langsung dinilai oleh ketiga dewan juri perlombaan. (pan)
