POSKOTA.CO.ID - Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Alumni beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu menuai kritik tajam usai vlog pribadinya dinilai merendahkan martabat paspor Indonesia.
Video tersebut viral dan memicu perdebatan panjang, terutama karena Tyas diketahui pernah menempuh pendidikan dengan dana negara.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen penting yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku," ujar Tyas dilansir dari video TikTok verifika.id pada Jumat, 20 Februari 2026.
Awal Mula Videonya Viral

Kontroversi bermula pada Februari 2026 ketika Tyas mengunggah vlog yang memperlihatkan dirinya menerima amplop cokelat dari Home Office Inggris.
Dalam video itu, ia tampak haru saat membuka dokumen kewarganegaraan anak keduanya.
Ia menyebut dokumen tersebut sebagai sesuatu yang akan mengubah masa depan anak-anaknya. Kebahagiaannya memuncak ketika mengetahui sang anak resmi menjadi warga negara Inggris.
Namun, pernyataannya yang menyebut ingin anak-anaknya memiliki “paspor kuat” dan mengatakan “cukup aku saja yang WNI” langsung memantik reaksi keras publik.
Baca Juga: Sosok Pacar Gendis JKT48 Siapa? Jadi Sorotan Usai Foto Diduga Bareng Kekasih Viral
Sorotan Status Alumni LPDP
Pernyataan itu dinilai sensitif karena Tyas merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung angkatan 2009.
Ia melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology pada 2015–2017 melalui pendanaan penuh LPDP.
LPDP sendiri merupakan program beasiswa yang dibiayai dari dana abadi pendidikan, bersumber dari APBN atau pajak rakyat. Fakta inilah yang membuat sebagian warganet menilai pernyataan Tyas sebagai bentuk ketidakpekaan.
Kolom komentar media sosialnya pun dibanjiri kritik. Ia bahkan dijuluki “lintah pajak” dan dituding tidak menghargai negara yang telah membiayai pendidikannya.
Baca Juga: Konflik K-Netz vs SEAblings Picu Ancaman Boikot Drakor di Asia Tenggara
Respons dan Balasan yang Picu Polemik
Alih-alih meredakan situasi, sejumlah balasan Tyas kepada warganet justru memperkeruh keadaan.
Ia membantah tudingan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan menyebut akan mendata akun-akun yang dianggap memfitnah.
Respons tersebut memicu gelombang kritik lanjutan. Warganet juga menyoroti bahwa suaminya diketahui menempuh pendidikan S2 hingga S3 dengan dana LPDP.
Isu etika kemudian mengemuka. Banyak yang menilai kebahagiaan pribadi sah-sah saja, tetapi penyampaiannya dianggap kurang bijak dan berpotensi melukai perasaan publik.
Klarifikasi Dwi Sasetyaningtyas
Di tengah derasnya kritik, Tyas akhirnya menyampaikan klarifikasi panjang. Ia menegaskan bahwa dirinya masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI), begitu pula suami dan kedua anaknya.
Menurutnya, anak keduanya berhak atas dwikewarganegaraan karena lahir di Inggris, sesuai aturan hukum yang berlaku. Ia juga menyatakan tetap membayar pajak di Indonesia.
Tyas kemudian memaparkan sejumlah kontribusi yang diklaim telah ia lakukan sejak lulus pada 2017, di antaranya:
- Menyusun Business Model Framework untuk pengembangan energi surya di Pulau Sumba yang dapat diunduh gratis.
- Mengembangkan bisnis lestari yang bermitra dengan petani, pengrajin, dan UMKM lokal.
- Menginisiasi solusi pengelolaan sampah plastik dan organik lewat gerakan #Kawankompos.
- Menanam lebih dari 10.000 pohon bakau di berbagai wilayah pesisir.
- Memberdayakan lebih dari 200 ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah.
- Menulis buku bertema gaya hidup berkelanjutan.
- Menyalurkan donasi bencana dan membangun sekolah lestari di Nusa Tenggara Timur.
Ia mengakui kontribusi tersebut masih jauh dari sempurna, namun menegaskan semuanya dilakukan dengan sumber daya pribadi dan penuh keterbatasan.
Polemik Belum Usai
Hingga kini, polemik mengenai pernyataan Dwi Sasetyaningtyas masih bergulir di media sosial.
Sebagian publik mulai melihat kontribusi yang ia paparkan, namun tak sedikit pula yang tetap menyayangkan ucapannya tentang paspor Indonesia.
Kasus ini kembali memunculkan diskusi lebih luas tentang nasionalisme, etika komunikasi publik, serta tanggung jawab moral penerima beasiswa negara.
Pernyataan dan Permohonan Maaf

Pada akun Instagram resminya @sasetyaningtyas telah memberikan pernyataan dan permohonan maaf.
"Sehubung dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat 'cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan', dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman tas pernyataan tersebut," tulis pernyataanya.
"Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan," tambahnya.
"Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama," ketiknya.
