Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan di kalangan warganet. Sebagian pihak menilai ucapannya kurang sensitif, terutama mengingat statusnya sebagai mantan penerima beasiswa negara. Namun, ada pula yang mencoba memahami konteks keputusan tersebut sebagai bagian dari pilihan pribadi dalam merencanakan masa depan keluarga.
Baca Juga: Curhat Insanul Fahmi Soal Anak Jadi Sorotan, Singgung Peran Ibu di Tengah Polemik
Sorotan terhadap Status Awardee LPDP
Viralnya video tersebut membuat publik kembali menyoroti latar belakang Tyas sebagai awardee LPDP. Status sebagai penerima beasiswa dari negara dinilai membawa konsekuensi moral untuk tetap berkontribusi bagi Indonesia.
Perdebatan pun meluas, tidak hanya soal kewarganegaraan anak, tetapi juga mengenai komitmen dan kontribusi alumni beasiswa pemerintah terhadap pembangunan nasional. Isu ini berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang peran diaspora dan profesional Indonesia di luar negeri.
Profil Pendidikan Dwi Sasetyaningtyas
Dari sisi akademik, Dwi Sasetyaningtyas memiliki rekam jejak pendidikan yang kuat. Ia merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia.
Setelah itu, Tyas melanjutkan studi ke Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Pendidikan internasional tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan karier dan aktivitas sosialnya.
Bekal akademik itu kemudian ia manfaatkan untuk membangun Sustaination pada 2017, sebuah gerakan yang fokus pada kampanye gaya hidup ramah lingkungan dan pengurangan sampah.
Baca Juga: Apa Agama Ayushita dan Gerald Situmorang? Fakta Pernikahan dan Isu Nikah Beda Keyakinan
Meski menuai pro dan kontra akibat pernyataannya yang viral, profil Dwi Sasetyaningtyas sebagai alumni awardee LPDP sekaligus aktivis lingkungan kini semakin dikenal publik.
Perdebatan yang muncul menunjukkan bagaimana figur publik dengan latar pendidikan dan kontribusi sosial yang kuat tetap tidak lepas dari sorotan tajam masyarakat di era media sosial.
