Ia mengaku bangga karena anaknya sendiri yang meminta agar tarawih perdana dilakukan di Istiqlal. Baginya, membiasakan anak-anak ke masjid adalah investasi nilai yang tak ternilai.
Senada, Yazid, 26 tahun, yang telah setahun bekerja di Jakarta, juga baru pertama kali menginjakkan kaki di Istiqlal untuk tarawih. Sejak sore ia datang bersama rekan kerja demi mendapatkan tempat terbaik.
“Rasanya luar biasa. Suasananya khusyuk tapi juga hangat karena banyak sekali jamaah,” ujarnya.
Ia berharap tarawih perdana ini menjadi awal yang baik untuk menjaga konsistensi ibadah hingga akhir Ramadhan. Atmosfer megah dan penuh kebersamaan di Istiqlal, menurutnya, menjadi suntikan semangat tersendiri.
Menurut Nasaruddin, daya tampung Istiqlal mencapai 250 ribu jamaah. Pada malam-malam tertentu seperti iktikaf, seluruh lantai hingga lantai lima dapat terisi penuh.
Baca Juga: Ruang CCTV Masjid Istiqlal Terbakar saat Sholat Tarawih Perdana
Selain tarawih, sebelum sholat dimulai jamaah akan disuguhi lantunan qari internasional, sedangkna kultum menghadirkan tokoh nasional, ulama, hingga para menteri dan duta besar.
Sholat tarawih dan witir berakhir sekitar pukul 21.10 WIB. Namun, suasana Ramadhan belum usai, sebagian jemaah memilih bertahan di pelataran, menikmati bazar yang menjajakan aneka kuliner dan busana muslim.
Aroma makanan bercampur obrolan ringan mengisi udara malam, menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga perayaan kebersamaan.
Malam pertama itu menjadi pembuka yang syahdu—sebuah awal perjalanan spiritual sebulan penuh di jantung ibu kota, di Bawah kubah besar Masjid Istiqlal yang kembali dipenuhi lautan manusia.
