Di tengah polemik tersebut, sejumlah warganet mengaku mulai mengalihkan perhatian ke drama China (drachin). Fenomena ini terlihat dari percakapan di media sosial yang menunjukkan meningkatnya minat terhadap tontonan alternatif selain drakor.
Beberapa pengguna bahkan secara terbuka menyatakan lebih menikmati drachin dan anime ketimbang drama Korea.
"DRACIN lebih seru apalagi kini lagi demam giok kekaisaran naga," tulis @syi***
"Lebih seru drachin daripada drakor," komen @I_in***
"Udah lama gak fangirling in k-pop, sekarang nonton drakor juga males. lebih betah nontonin drachin sama anime," ketik @Mba***
Tren ini dinilai sebagai sinyal bahwa loyalitas penonton bisa berubah ketika faktor emosional dan sentimen kolektif ikut bermain.
Baca Juga: Orang Tua Ayushita Siapa? Inilah Sosok Keluarga Istri Gerald Situmorang yang Jarang Terekspos
Internet yang menghapus batas geografis memungkinkan opini berkembang cepat dan membentuk arus besar. Jika sentimen negatif terus menguat, bukan tidak mungkin konsumsi drakor di Asia Tenggara mengalami penurunan signifikan.
Dinamika Digital dan Citra Industri Hiburan
Meski begitu, sebagian warganet mencoba meredam ketegangan dengan nada reflektif dan humor. Ada yang menyebut konflik ini sebagai dinamika biasa di ruang digital yang kerap diwarnai saling sindir antarnegara.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa dinamika media sosial kini memiliki dampak nyata terhadap citra industri hiburan global.
Dalam era ekonomi kreatif berbasis fandom, reputasi dan relasi emosional menjadi faktor penting dalam mempertahankan pasar.
Konflik K-Netz vs SEAblings menjadi pengingat bahwa komentar di ruang digital dapat berdampak luas, bukan hanya pada hubungan antarwarganet, tetapi juga pada pola konsumsi budaya populer di tingkat regional hingga global.
