POSKOTA.CO.ID - Tekanan hidup modern telah melahirkan fenomena baru yang semakin akrab terdengar di telinga generasi saat ini anxiety atau kecemasan.
Istilah tersebut merujuk pada kegelisahan kronis yang dipicu oleh laju informasi yang tidak pernah berhenti, tuntutan pencapaian yang kian tinggi, serta paparan media sosial yang mengukur nilai diri dari likes, komentar, hingga pencapaian orang lain.
Kondisi ini bukan hanya sekadar stres, melainkan bentuk kecemasan multidimensi yang mempengaruhi pola pikir, kesehatan mental, hingga cara seseorang memandang masa depan.
Fenomena seperti doomscrolling, ketidakstabilan ekonomi, hingga quarter-life crisis membuat banyak orang terjebak pada rasa “tidak pernah cukup baik” atau never enough. Kondisi ini memunculkan tekanan batin yang berujung pada kepanikan, stres berat, dan kelelahan emosional.
Namun jauh sebelum istilah-istilah tersebut muncul, seorang tokoh spiritual besar telah menawarkan cara pandang yang menenangkan tentang perjalanan jiwa dan ketenangan batin. Sosok itu adalah Jalaludin Rumi, penyair sufi abad ke-13 yang gagasannya tetap relevan hingga masa kini.
Baca Juga: SEB Pembelajaran Ramadhan 2026 Resmi Terbit, Ini Jadwal Masuk Sekolah dan Libur Idulfitri
Pesan Rumi tentang Ketentuan Ilahi dan Ketenangan Jiwa
Melansir dari Quora @lllyyun, Dalam salah satu ungkapan terkenalnya, Rumi menyampaikan:
“Sebab setiap burung terbang ke sarangnya sendiri, burung sebenarnya mengikuti di belakang, sedangkan yang terbang dan menuntunnya di depan adalah ruh-Nya.”
Kalimat ini mengandung pesan yang dalam: bahwa setiap makhluk hidup selalu berada dalam bimbingan Sang Pencipta. Seperti burung yang tampak menggerakkan sayapnya sendiri, padahal terdapat kekuatan yang menuntunnya, manusia pun demikian.
Rumi mengingatkan bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada di bawah kendali manusia selalu ada tangan Tuhan yang menjadi penuntun.
Pemahaman ini, bagi banyak orang, terasa relate. salah satu netizen berkomentar dalam postingan tersebut dan mencurahkan pandangannya soal quotes Rumi.
"Benar sekali. Saat ambisi saya tidak tercapai, berbagai kekesalan, umpatan, sumpah serapah terlontar, stress pun melanda. Tetapi setelah disadarkan, saya pun yakin bahwa Dia telah menuntun semua ciptaan-Nya sesuai kehendak-Nya. Akhirnya keyakinan itu menuntun pula kepada keikhlasan hati dan ketenangan jiwa." ujar @bar***
"Jaman sekarang orang-orang banyak yang merasakan kecemasan dengan ketidakpastian. Apakah ini juga salah satu hidayah Tuhan Yang Maha Esa, saat saya sedang mencari tau tentang rasa sejati quote ini yang saya baca untuk pertama kalinya setelah buka quora" ujar @bag***
Ruh, Jasad, dan Ketenangan yang Hakiki
Rumi juga menggambarkan hubungan antara ruh dan jasad sebagai dua elemen yang berjalan bersama. Menurutnya, ruh sering kali merasa lelah mengikuti jasad yang harus mengalami rasa lapar, haus, sakit hati, atau kebencian.
Setelah terlepas dari jasad, ruh akan kembali kepada Sang Pencipta, merasakan kebebasan, dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan selama kehidupan dunia.
Dalam pandangan spiritual ini, kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah peralihan dari kehidupan fisik menuju keabadian ruh. Pemahaman ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-Fajr: 27–30:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa ketenangan batin bukan hanya tujuan hidup, tetapi juga bekal menuju perjalanan abadi.
Baca Juga: Doa Awal Ramadhan yang Diamalkan Rasulullah SAW: Lengkap Latin, Arti dan Keutamaannya
Tantangan Generasi Sekarang Menghadapi Kecemasan
Menghadapi dunia dijaman sekarang, sebagian orang mungkin bertanya-tanya bagaimana memahami konsep ruh, tubuh, dan ketentuan Tuhan dalam dunia yang serba rasional dan cepat? Apakah analogi burung yang mengikuti ruhnya dapat diterapkan pada manusia dengan segala kompleksitasnya?
Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara pandang berbeda. Ada yang memahaminya secara spiritual, ada pula yang menafsirkannya sebagai simbol bahwa manusia harus menyerahkan sebagian kegelisahannya kepada hal yang lebih besar dari dirinya.
Namun apa pun bentuk interpretasinya, pesan Rumi tetap relevan, manusia membutuhkan keseimbangan antara ambisi dan ketenangan batin antara usaha dan kepasrahan. Di era yang penuh tekanan ini, pesan tersebut justru menjadi kebutuhan utama.
Di tengah gempuran informasi dan tekanan sosial, kecemasan modern menjadi realitas yang sulit dihindari. Namun kebijaksanaan klasik dari Rumi mengingatkan bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari pemahaman mendalam tentang diri, takdir, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Ketenangan batin tidak selalu berarti pasrah tanpa usaha. Ia adalah keberanian untuk tetap berjalan sambil percaya bahwa kehidupan memiliki jalannya sendiri. Justru di situlah letak kekuatan manusia: tidak menyerah pada kecemasan, tetapi tidak pula dipenjara oleh ambisi.
