"Benar sekali. Saat ambisi saya tidak tercapai, berbagai kekesalan, umpatan, sumpah serapah terlontar, stress pun melanda. Tetapi setelah disadarkan, saya pun yakin bahwa Dia telah menuntun semua ciptaan-Nya sesuai kehendak-Nya. Akhirnya keyakinan itu menuntun pula kepada keikhlasan hati dan ketenangan jiwa." ujar @bar***
"Jaman sekarang orang-orang banyak yang merasakan kecemasan dengan ketidakpastian. Apakah ini juga salah satu hidayah Tuhan Yang Maha Esa, saat saya sedang mencari tau tentang rasa sejati quote ini yang saya baca untuk pertama kalinya setelah buka quora" ujar @bag***
Ruh, Jasad, dan Ketenangan yang Hakiki
Rumi juga menggambarkan hubungan antara ruh dan jasad sebagai dua elemen yang berjalan bersama. Menurutnya, ruh sering kali merasa lelah mengikuti jasad yang harus mengalami rasa lapar, haus, sakit hati, atau kebencian.
Setelah terlepas dari jasad, ruh akan kembali kepada Sang Pencipta, merasakan kebebasan, dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan selama kehidupan dunia.
Dalam pandangan spiritual ini, kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah peralihan dari kehidupan fisik menuju keabadian ruh. Pemahaman ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-Fajr: 27–30:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa ketenangan batin bukan hanya tujuan hidup, tetapi juga bekal menuju perjalanan abadi.
Baca Juga: Doa Awal Ramadhan yang Diamalkan Rasulullah SAW: Lengkap Latin, Arti dan Keutamaannya
Tantangan Generasi Sekarang Menghadapi Kecemasan
Menghadapi dunia dijaman sekarang, sebagian orang mungkin bertanya-tanya bagaimana memahami konsep ruh, tubuh, dan ketentuan Tuhan dalam dunia yang serba rasional dan cepat? Apakah analogi burung yang mengikuti ruhnya dapat diterapkan pada manusia dengan segala kompleksitasnya?
Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara pandang berbeda. Ada yang memahaminya secara spiritual, ada pula yang menafsirkannya sebagai simbol bahwa manusia harus menyerahkan sebagian kegelisahannya kepada hal yang lebih besar dari dirinya.
Namun apa pun bentuk interpretasinya, pesan Rumi tetap relevan, manusia membutuhkan keseimbangan antara ambisi dan ketenangan batin antara usaha dan kepasrahan. Di era yang penuh tekanan ini, pesan tersebut justru menjadi kebutuhan utama.
Di tengah gempuran informasi dan tekanan sosial, kecemasan modern menjadi realitas yang sulit dihindari. Namun kebijaksanaan klasik dari Rumi mengingatkan bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari pemahaman mendalam tentang diri, takdir, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
