POSKOTA.CO.ID - Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini menjadi perhatian publik karena berbeda dengan keputusan sejumlah otoritas di negara lain, termasuk Turki, yang memulai puasa sehari setelahnya.
Perbedaan tanggal tersebut memicu diskusi mengenai metode yang digunakan dalam penentuan kalender Hijriah. Sorotan pun mengarah pada penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi dasar perhitungan Muhammadiyah.
Menanggapi hal tersebut, Muhammadiyah menegaskan bahwa keputusan itu disusun melalui kajian keagamaan dan ilmiah yang matang.
Pendekatan yang digunakan memadukan dalil syar’i, pertimbangan fikih, serta perhitungan astronomi modern untuk menghadirkan kepastian waktu ibadah. Penjelasan ini disampaikan pakar falak muda Muhammadiyah, Najmuddin Saifullah, yang dilansir Poskota dari laman resmi Muhammadiyah pada, 12 Februari 2026.
Baca Juga: Pendaftaran Mudik Gratis Jasa Raharja 2026 Telah Dibuka: Ketahui Kuota, Syarat, hingga Cara Daftar
Dasar Syar'i dan Fikih dalam KHGT
Najmuddin menjelaskan bahwa KHGT dirancang sebagai ijtihad kolektif yang berupaya menghadirkan kepastian waktu ibadah bagi umat Islam secara global. Menurutnya, konsep ini memiliki landasan kuat dalam Al-Quran dan hadis.
"KHGT ini adalah ijtihad Muhammadiyah yang terbaik saat ini karena bisa memanfaatkan pengetahuan, kemudian landasan dalil syar’i dan hadisnya juga kuat," ujarnya di kutip Poskota pada, 12 Februari 2026.
Ia mengaitkan prinsip tersebut dengan QS at-Taubah ayat 36 tentang jumlah bulan dalam setahun yang dipahami sebagai dorongan menghadirkan kepastian kalender ibadah.
Selain itu, ia menyinggung hadis: "Ash-shaumu yauma tashumun, wal-fithru yauma tufthirun," yang dimaknai sebagai isyarat pentingnya keserempakan umat dalam pelaksanaan ibadah.
Dari sisi fikih, KHGT mengadopsi prinsip ittihad al-mathali’, yakni memandang bumi sebagai satu kawasan rukyat global. Dengan pendekatan ini, awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha diupayakan dapat berlangsung serentak di seluruh dunia.
Pendekatan Astronomi dan Legitimasi Hisab
Selain landasan keagamaan, Muhammadiyah menekankan penggunaan ilmu astronomi modern untuk menghitung posisi bulan dan matahari secara presisi. Parameter seperti tinggi hilal, elongasi, dan waktu konjungsi menjadi acuan utama.
