POSKOTA.CO.ID - PIC Key Opinion Leader (KOL) Eiger Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah sebuah unggahan di media sosial mengungkap dugaan tindakan merendahkan seorang konten kreator.
Perilaku tersebut pertama kali mencuat setelah beredar tangkapan layar yang menunjukkan percakapan antara PIC KOL dengan seorang kreator yang diduga diperlakukan tidak profesional.
Dilansir dari unggahan akun X @kforkonsley pada 10 Februari 2026, konten kreator tersebut membagikan sebuah tangkapan layar yang menunjukkan bagaimana PIC KOL Eiger Indonesia diduga merendahkannya.
“Mau jual sandal ini deh, soalnya habis direndahin sama PIC-nya. Mentang-mentang followers cuma dua ribu,” tulisnya.
Insiden ini dengan cepat viral dan menimbulkan gelombang reaksi di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menilai insiden tersebut sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap pelaku industri kreatif, terutama karena peran KOL dan konten kreator kini menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran digital.
Kontroversi ini memicu pembahasan luas, tidak hanya mengenai sikap individu, tetapi juga citra perusahaan secara keseluruhan.
Baca Juga: Kasus Ekspor CPO Rugikan Negara Puluhan Triliun, Kejagung Tahan 11 Tersangka
Kasus Lama Eiger Indonesia Tahun 2020 Kembali Diungkit Netizen
Imbas dari viralnya insiden terbaru, warganet kembali mengangkat kasus lama Eiger Indonesia yang terjadi pada tahun 2020. Informasi tersebut dibagikan melalui akun Threads @gladystrisnawati pada 10 Februari 2026. Dalam unggahannya, ia menjelaskan bahwa Eiger Indonesia pernah memberikan surat keberatan kepada seorang YouTuber karena kualitas video review produk dinilai kurang baik.
Padahal, YouTuber tersebut membeli produk Eiger dengan uang pribadi dan melakukan review tanpa hubungan kerja sama.
“2020 dulu mereka pernah nyuratin YouTuber yang ngereview barang mereka dengan alasan kualitas videonya jelek. Padahal tuh kreator nggak di-endorse, beli sendiri, review pun di channel YouTube-nya sendiri. Sampai minta maaf nih brand dulu, tapi songongnya nggak kapok-kapok, 2026 diulangin lagi,” tulisnya.
Unggahan tersebut juga menyertakan bukti tangkapan layar surat keberatan dari Eiger Indonesia, yang kembali memicu perdebatan publik terkait cara perusahaan memperlakukan komunitas kreator.
Dari kasus tersebut CEO PT Eigerindo MPI, Ronny Lukito, akhirnya memberi penjelasan lewat video di akun Youtube @eigeradventure. Dalam video 3.38 menit itu yang diupload 5 tahun yang lalu, ia meminta maaf atas surat keberatan yang dikirim kepada content creator dan publik luas.
Ronny mengakui surat tersebut salah dan menegaskan bahwa ide itu sepenuhnya berasal darinya, meski tim internal sudah mengingatkan bahwa langkah itu tidak tepat.
"Saya menyesal atas kejadian. Dan saya sadar surat keberatan itu adalah salah dan tidak benar," ujarnya dalam video Youtube yang tayang, 5 Februari 2021.
"Sebetulnya tim internal sudah menjelaskan dan mengingatkan bahwa langkah itu tidak tepat. Tapi saya bersikeras (surat itu) dijalankan," ungkap Ronny.
Ia pun bertanggung jawab penuh atas kegaduhan yang terjadi dan menyebut peristiwa ini sebagai pelajaran untuk menjadi lebih bijak serta menurunkan ego.
"Ini juga saya yakin sebagai teguran dari Tuhan" lanjutnya
Baca Juga: Korupsi Ekspor CPO-POME Rugikan Negara Rp14,3 Triliun dan Kepercayaan Publik Tergerus
Reaksi Netizen: “Tidak Belajar dari Pengalaman”
Kasus baru yang menyeret kembali insiden lama ini membuat banyak netizen meluapkan kekecewaannya. Beberapa pengguna media sosial menilai bahwa masalah serupa seharusnya tidak terulang jika perusahaan telah mengevaluasi dan memperbaiki sistem kerja internal.
Seorang warganet dengan akun @nug*** menuliskan:
“Bahasannya kok bukan seperti brand besar, padahal selama ini gue sering pakai produknya terutama tas. Kalau jam tangan dan aksesoris selain tas sih kualitasnya busuk. Ternyata orang di belakangnya juga ampas.”
Pengguna lain, dengan akun @iam***, mengaitkan insiden ini dengan pandangannya terhadap kualitas produk:
“Gue hobi hiking, sampai hijrah ke UL, satu pun perintilan gue nggak ada merk ODM rebrand Cina aka Eiger. Ogah banget pakai merk lokal performa/weight amburadul.”
Komentar serupa datang dari akun @bop***: “Lah masih diulang toh? Nggak belajar sama pengalaman wkwk.”
Sementara itu, akun @ade*** menyebut bahwa pengalaman kreator lain, termasuk musisi dan penulis Fiersa Besari, pernah menggambarkan suasana kerja sama dengan Eiger sebagai “kaku dan berjarak”.
Kontroversi yang kembali muncul ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi perusahaan dalam memperbaiki citra dan hubungan dengan komunitas kreator. Dunia pemasaran digital sangat bergantung pada kolaborasi yang sehat antara brand dan kreator, sehingga sikap PIC maupun tim internal memiliki dampak langsung terhadap reputasi perusahaan.
Baca Juga: Siapa Vito Dery Alvi Silalahi? PIC KOL Eiger Indonesia yang Diduga Rendahkan Konten Kreator
Eiger Memberikan Pernyataan Resmi
Hingga saat artikel ini ditulis, Eiger resmi memecat PIC KOL dan memberikan pernyataan resmi dan langkah konkret Eiger Indonesia dalam menanggapi kasus yang kembali viral tersebut.
“Eigerindo MP sebagai distributor resmi EIGER Adventure menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada Mitra KOL kami atas kejadian yang dialami. Manajemen telah melakukan tindak tegas terhadap kegiatan ini”, tulisnya.
“Sebagai bentuk pertanggung jawaban kami, per hari ini PIC KOL yang bersangkutan sudah tidak lagi menjadi bagian dari kami. Kami berkomitmen menjaga hubungan baik serta kepercayaan yang sudah diberikan seluruh mitra dan pelanggan”, tambahnya.
