JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Seorang guru honorer di salah satu sekolah di wilayah Jakarta Barat berinisial MA, harus menjadi ojek online (ojol) dan juga berjualan nasi goreng setelah mengajar guna memenuhi kebutuhan hidup.
Kepada Poskota, ia menceritakan dirinya sudah mengabdi selama 12 tahun di sekolah swasta tersebut.
“Saya mengabdi di sekolah swasta total sudah sampai 12 tahun. Di Dapodik-nya saya 5 tahun, jadi di SD saya masuk tahun 2021 sampai sekarang, ya kurang lebih 5 tahun lah," kata MA saat ditemui Kamis, 5 Februari 2026.
MA menjelaskan, lokasi sekolahnya berada di permukiman padat penduduk yang awalnya dibangun atas usulan masyarakat. Saat itu, MA dipercaya untuk menjadi guru dan menyanggupinya.
Baca Juga: Kecelakaan di Citayam Depok: Polisi Pastikan Pengemudi Negatif Narkoba dan Alkohol
Selama menjadi guru, ia menyebut penghasilannya yang per bulan sekira Rp700 ribu dan itu harus ditambah menjadi ojek online (ojol) serta berjualan nasi goreng setelah mengajar.
“Pukul 11.30 WIB habis ngajar saya nyalain aplikasi. Saya cari yang satu arah, saya cuma ngojek pas habis ngajar aja, biasanya ambil orderan barang," ucap dia.
"Kadang dapat Rp60 ribu, ya lumayan itung-itung gantiin ongkos bensin sama makan di hari itu aja," sambungnya.
Malam Hari Berjualan Nasi Goreng
Selain menjadi ojol, malam hari MA tetap harus mencari uang tambahan. Ia beralih beprofesi menjadi tukang nasi goreng.
Baca Juga: Isi Surat Anak SD Bunuh Diri di NTT Apa? Ini Terjemahan dan Fakta Tabir Masalah yang Dihadapi Korban
MA mengaku berjualan nasi goreng ini menjadi usaha sampingan dan baru berjalan dua bulan. Meski begitu, usaha nasi goreng ini dijaga oleh orang lain.
"Kalau malem baru jualan nasi goreng, tapi bukan saya yang jagain, kalau saya yang jagain enggak kuat," tutur dia.
MA menuturkan, bayaran guru di sekolah tempat dia mengajar tergantung pembayaran SPP dari orangt ua murid.
Ia menyebut hanya sekitar 65 persen orang tua murid yang mampu membayar SPP secara utuh.
Baca Juga: Seperti Apa Jam Kerja Dapur Program Makan Gratis? Ini Pembagian Tugas Pemorsian sampai Packing
"Jadi kurang lebih 60 sampai 65 persen lah yang sanggup dan mampu membayar setiap bulannya. Sehingga masalah penggajian bermasalah juga. Jadi yang kami terima ya sering kali SPP kumpul berapa, ya sudah kami lihat, ya kurang lebih Rp700 ribu lah. Itu selama 3 tahun. Lalu sepanjang perjalanan ada perubahan," kata dia.
Meski begitu, namun MA mengungkapkan, sekolah swasta tempat dia mengajar mendapatkan bantuan Dana Operasional Sekolah (BOS) dan juga Kartu Jakarta Pintar (KJP).
"Karena memang kami terdaftar di Dapodik. Lalu juga kami ada KJP juga kami proses, seperti itu. Itu bagian dari bentuk bantuan pemerintah sebetulnya," ungkapnya.
MA berharap adanya kesamaan pendekatan antara guru negeri dengan guru swasta. Sebab ia menilai semua guru sama yaitu mengajar anak-anak bangsa demi masa depan yang lebih baik.
"Ya harapan kita bahwa ada perhatian juga terhadap sekolah-sekolah swasta ya terutama dari sisi penggajian dan juga dari sisi pembangunan sekolahnya," ucapnya.
"Terutama yang yayasan swasta yang kecil yang memang berdirinya di masyarakat kelas menengah ke bawah," pungkasnya.