Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

SERBA-SERBI

Ekonomika Pancasila: Bersemi Ekonomi Perbudakan

Rabu 04 Feb 2026, 09:16 WIB

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

POSKOTA.CO.ID - Puncak-puncak buah the slavery system atau sistem perbudakan adalah saat adharma, angkara, amoralis, asusila dan astana (5A) mentradisi.

Jika itu terjadi, apa yang akan kita nikmati? Adalah keputusasaan warga negara; lapar dan miskin serta hidup segan mati tak sudi. Itulah keadaan riilnya seperti hari-hari yang sedang kita lalui.

Memang, ekonomi perbudakan hasil imperialisme polanya selalu serupa walau tak sama persis. Dari zaman purba sampai kini, adalah:

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Berekonomi tanpa Dividen

Dengan sembilan roadmap ini maka lebih banyak uang kita (kekayaan) mengalir keluar untuk membayar interest on debt (bunga utang) daripada yang masuk sebagai humanitarian aid atau bantuan kemanusiaan.

Jadilah negeri kita sebagai "negeri budak" yang bahagia walau bermandikan paria dan kedunguan. Repotnya keadaan ini dipahami oleh rakyat, bukan oleh pejabat; oleh ummat bukan oleh elite jahat.

Saat bersamaan, rakyat berharap bahwa pemenang pilpres adalah negarawan yang akan melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan. Tak tahunya, mereka adalah pengkhianat konstitusi, penjahat rakyat, pencuri yang nyamar dengan dupa, musuh yang bersembunyi di balik ikatan pribumi, pezina yang sok alim, serdadu yang anti patriotik.

Maka, saat rakyat menghadapi banjir yang datang lebih cepat, longsor yang makin sering, sungai yang mengering di musim kemarau dan meluap di musim penghujan, tanah yang dulu subur dan berhutan lalu rapuh dan tidak mampu lagi memegang air, mereka justru berpesta. KKN makin nyata dan diimani serta ditradisikan menjadi agama dan kebudayaan!

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mengakhiri Mimpi Makmur

Lebih jauh, mereka belum sadar bahwa alat untuk menghancurkan sistem imperialisme sendiri bisa menjadi komoditas yang dijual demi keuntungan. Golek sego lan rupo. Itulah inti dan ontologi bekerjanya imperialisme.

Para pemujanya menggambarkan bagaimana logika imperialisme begitu total, hingga moral, bahaya, dan bahkan kematiannya dapat dikonversi menjadi transaksi yang menguntungkan.

Dalam kerangka ini, imperialisme tidak runtuh karena diserang dari luar, tetapi karena ia dengan rakus menjual segala sesuatu, termasuk benih kehancurannya sendiri.

Secara kritis, kalimat ini juga menunjukkan bahwa imperialisme tidak memiliki kesetiaan pada nilai, ide, atau masa depannya. Mereka hanya beriman pada laba (kemaruk angka dan benda). Jika ada permintaan, maka akan ada penawaran, tak peduli seberapa destruktif akibatnya.

Sistem ini tidak menolak ancaman, ia justru memanfaatkannya semaksimal dan sepuas-puasnya. Bahkan perlawanan bisa dipaketkan, dijual dan dikonsumsi sebagai produk, hingga kehilangan daya revolusionernya.

Ini semua menjadi peringatan bagi mereka yang ingin melawan ketidakadilan hasil imperialisme: jika perlawanan hanya berhenti pada simbol, slogan, atau konsumsi, maka semua akan segera diserap kembali oleh sistem yang dilawannya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Jejak Jahat Ekonomi Kolonial

Dus, revolusi yang tidak mengubah kesadaran, struktur, dan fungsi hanya akan menjadi komoditas baru yang laku keras, viral, tapi pada akhirnya jinak dan tak lagi berbahaya. Sebagian bahkan kapok dan mengkhianati kawan seperjuangan.

Karena itu, mulai pahami perang sesungguhnya kini terjadi antara dua kekuatan utama: (1) Mereka yang berkeinginan mempertahankan ekonomi perbudakan yang bersumber dari konstitusi palsu berciri liar, ambisius tak terbatas, berhadapan dengan (2) Kita semua para patriot yang dijalankan hati tulus, mencintai konstitusi asli, menegakkan republik tanpa ada perbudakan.

Tags:
perbudakanYudhie HaryonoEkonomika Pancasila

Tim Poskota

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor