Jika diterjemahkan secara keseluruhan, surat tersebut berisi ungkapan perasaan YBR kepada ibunya. Korban membuka surat dengan menyebut bahwa tulisan itu khusus untuk sang ibu.
Ia kemudian menuliskan kalimat yang menunjukkan kekecewaan dengan menyebut ibunya pelit. Meski begitu, pada baris berikutnya YBR tetap menyebut ibunya sebagai sosok yang baik.
Dalam bagian selanjutnya, korban meminta ibunya agar tidak menangis jika dirinya meninggal dan juga tidak mencarinya. Surat tersebut ditutup dengan kalimat perpisahan sederhana, “selamat tinggal mama”.
Polisi menilai surat ini sebagai ungkapan emosi pribadi korban, namun belum bisa menyimpulkan latar belakang pasti dari perasaan kecewa tersebut.
Dugaan Penyebab Masih Didalami Polisi
Hingga kini, aparat kepolisian belum dapat memastikan apa yang membuat anak SD bunuh diri tersebut merasa kecewa terhadap ibunya.
Di tengah masyarakat sempat beredar informasi bahwa korban kecewa karena tidak dibelikan buku tulis, namun kabar tersebut masih belum dapat dikonfirmasi secara resmi oleh pihak kepolisian.
Petugas masih mengumpulkan keterangan dari keluarga dan warga sekitar guna mengetahui kondisi korban sebelum peristiwa terjadi.
Baca Juga: SMAN 3 Pandeglang Mulai Terapkan Pembatasan Penggunaan Ponsel di Sekolah bagi Siswa
Kronologi Penemuan Korban di Kebun Keluarga
YBR diketahui sehari-hari tinggal bersama neneknya di sebuah pondok yang berada di kebun milik keluarga. Orang tua korban tinggal di desa tetangga.
Malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumah orang tuanya, lalu keesokan pagi kembali ke pondok. Namun, pada hari itu korban tidak pergi ke sekolah.
Saat kejadian, nenek korban tidak berada di pondok karena sejak malam membantu tetangga memecahkan kemiri. Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang datang ke kebun untuk mengikat ternaknya.
Setelah itu, warga tersebut berniat memberi tahu nenek YBR agar memperhatikan ternak, namun justru menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa di pohon cengkih yang jaraknya sekitar tiga meter dari pondok.
