POSKOTA.CO.ID - Selebritas Onadio Leonardo atau Onad mengungkap pengalaman pribadinya saat menjalani rehabilitasi narkoba di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Dalam proses tersebut, mantan vokalis band ini mengaku baru menyadari kondisi psikologis yang selama ini memengaruhi kehidupannya, yakni Peter Pan Syndrome.
Pengakuan itu disampaikan Onad saat menjadi bintang tamu dalam podcast Close The Door milik Deddy Corbuzier. Dalam video yang diunggah 30 Januari 2026 itu, Ia menceritakan momen emosional sejak awal berurusan dengan hukum hingga akhirnya menjalani rehabilitasi.
“Jujur ya Om Ded, gue itu sempat menangis saat istri pukul gue. Pas ditangkap gue merasa, ‘wah, enggak bercanda nih’,” ujar Onad di podcast Close The Door milik Deddy Corbuzier, yang dikutip Poskota pada, Sabtu 31 Januari 2026.
Baca Juga: Autopsi Tak Dilakukan, Penyebab Kematian Lula Lahfah Belum Terungkap
Momen Penangkapan dan Dukungan Sang Istri
Onad mengaku sempat berada dalam kondisi mental yang goyah ketika pertama kali ditangkap aparat. Ia bahkan meminta sang istri, Beby Prisillia, untuk terus mendampinginya selama berada di kantor polisi. Kehadiran orang terdekat menjadi penguat di tengah situasi yang menurutnya sangat menekan.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuatnya mulai menyadari keseriusan permasalahan yang sedang dihadapi, sekaligus konsekuensi hukum dari tindakannya.
Pengalaman Berat Selama Rehabilitasi Narkoba
Menjalani rehabilitasi narkoba bukanlah hal mudah bagi Onad. Ia menggambarkan suasana tempat rehabilitasi yang penuh tekanan, dengan mayoritas pasien memiliki latar belakang penggunaan narkoba yang berat.
“Orang-orang yang di rehab itu paling dominan 90 persen pengguna sabu, delapan persen tramadol, dan di sana isinya seram-seram,” tuturnya.
Meski demikian, Onad menyebut kasus yang menjeratnya tergolong lebih ringan dibanding pasien lain. “Begitu gue direhab karena ganja ternyata itu paling kecil. Akhirnya gue jadi mentor,” katanya.
Baca Juga: Detik-detik Terakhir Lula Lahfah Sebelum Ditemukan Meninggal di Apartemen Terungkap
Terapi Intensif dan Dampak Serius Narkoba
Onad menjalani terapi intensif bersama tim medis dan psikolog untuk menggali akar permasalahan penggunaan narkoba. Proses tersebut membuatnya semakin memahami dampak serius narkoba, baik bagi dirinya maupun pasien lain.
“Di situ digali soal permasalahan kenapa gue pakai narkoba, kayak terapi gitu,” ungkapnya.
Ia juga menyaksikan langsung kondisi pasien yang mengalami gangguan memori akibat penggunaan obat-obatan tertentu. “Banyak pasien yang lupa nama, lupa tempat tanggal lahir gara-gara tramadol,” lanjutnya.
Diagnosis Peter Pan Syndrome yang Mengejutkan
Dari rangkaian terapi tersebut, Onad baru mengetahui bahwa dirinya mengidap Peter Pan Syndrome, kondisi psikologis di mana seseorang sulit melepaskan fase usia muda.
“Ternyata gue terkena peter pan syndrom. Gue tidak bisa move on dari golden age saat masih 19 tahun,” tegasnya. Ia mengungkapkan bahwa masa kejayaan di usia muda justru menjadi titik yang membuatnya terjebak secara mental.
“Di usia gue sekarang 35 tahun, ternyata mental gue masih berada di usia 19 tahun dalam menghadapi masalah,” jelasnya.
Pengakuan Onad soal Alasan Pakai Narkoba hingga Tertangkap
Selain membahas rehabilitasi, Onad juga secara terbuka menceritakan alasan yang membawanya pada penggunaan narkoba hingga akhirnya berurusan dengan hukum. Ia menilai kesalahannya berawal dari pola pikir yang keliru.
“Gua tuh punya pola pikir yang salah Om Ded, menurut gua nyimeng sesekali itu nggak apa-apa. Misalnya lu nyimeng enam bulan sekali, tiga bulan sekali, di otak gua yang gobl*k ini it’s okay karena kan nggak yang setiap hari,” ungkap Onad yang dikutip dari YouTube Deddy Corbuzier pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Setelah tertangkap polisi, ia menyadari bahwa pelanggaran hukum sekecil apa pun tetap membawa risiko besar. “Ternyata gua salah datanglah saat (hari apes) itu tiba, salah, lu menyalahi hukum itu,” kata Onad.
Ia pun menilai pengalaman tersebut tidak sebanding dengan apa pun yang sempat ia rasakan. “Eh ternyata nggak worth it ya pas ketangkep,” tambahnya.
Pengakuan Onad menjadi refleksi penting tentang dampak narkoba, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental dan psikologis. Melalui proses rehabilitasi dan terapi yang dijalaninya, Onad mulai memahami akar permasalahan dalam dirinya sekaligus menyadari besarnya risiko dari keputusan yang pernah ia anggap sepele, sehingga pengalaman tersebut diharapkan menjadi pelajaran bagi dirinya dan peringatan bagi masyarakat agar tidak meremehkan bahaya narkoba.
