POSKOTA.CO.ID - Kasus dugaan kebocoran data pribadi kembali mencuat dan menjadi sorotan publik. Kali ini, perhatian tertuju pada sebuah lowongan kerja yang mengatasnamakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan viral di media sosial karena dinilai memiliki celah serius dalam pengelolaan data pelamar.
Isu tersebut pertama kali mencuat setelah sebuah video diunggah oleh konten kreator Abil Sudarman dengan akun Instagram @abilsudarman.
Dalam video yang ditayangkan lebih dari 3 juta penonton itu, Abil mengungkap adanya kejanggalan dalam proses rekrutmen loker Komdigi yang dinilainya berpotensi membahayakan keamanan data pribadi para pencari kerja.
Unggahan tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu beragam reaksi warganet. Banyak pihak mempertanyakan sistem pendaftaran yang digunakan, terutama karena melibatkan dokumen-dokumen sensitif dan diduga dapat diakses secara terbuka oleh publik.
Tautan Resmi Komdigi Arahkan Pelamar ke Google Drive
Abil menjelaskan bahwa lowongan pekerjaan tersebut menggunakan tautan pendaftaran yang tercantum di situs resmi komdigi.go.id. Namun, alih-alih mengarahkan ke sistem rekrutmen internal, pelamar justru diminta mengakses sebuah folder Google Drive.
Di dalam folder tersebut, para pelamar diwajibkan mengunggah berbagai dokumen penting, mulai dari curriculum vitae (CV), kartu tanda penduduk (KTP), surat lamaran kerja, surat keterangan sehat, transkrip nilai, hingga surat pengalaman kerja.
Baca Juga: Pedagang Es Gabus Dituduh Pakai Spons, Wanita Ini Jadi Sasaran Hujatan
Dokumen Pelamar Diduga Bisa Diakses Publik
Masalah serius muncul ketika Abil mengklaim bahwa folder Google Drive tersebut tidak memiliki pengamanan yang memadai. Ia menyebut seluruh data milik pelamar lain dapat diakses secara terbuka oleh siapa saja.
“Masalahnya adalah, semua pelamar datanya kelihatan di Google Drive ini. Semua foldernya nih keliatan nih nama-namanya nih. Jadi lo mau ngelamar, lo bisa buka data pribadi milik pelamar lain. Kelihatan telanjang semua bisa dibuka,” kata Abil.
Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena menyangkut data pribadi sensitif yang seharusnya dilindungi secara ketat.
