BANDUNG BARAT,POSKOTA.CO.ID - Hujan deras disertai kabut tebal kembali mengguyur kaki Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Suhu dingin menusuk dan jarak pandang terbatas membuat aktivitas pencarian korban longsor terpaksa dihentikan demi keselamatan petugas.
Enam hari pascalongsor yang meluluhlantakkan permukiman warga di Desa Pasirlangu, Sabtu, 24 Januari 2026, dini hari, ancaman longsor susulan masih tinggi. Cuaca ekstrem terus melanda sejak hari pertama kejadian.
Kapolres Cimahi AKBP Niko Nurulloh Adi Putra mengatakan Tim SAR gabungan masih berjibaku mengevakuasi korban yang tertimbun material longsor. Dari total 80 orang yang dilaporkan tertimbun, hingga Kamis, 29 Januari 2026, baru 53 orang berhasil ditemukan. Sebanyak 40 di antaranya telah teridentifikasi.
Di tengah duka dan upaya penyelamatan, pemandangan tak lazim terlihat di sekitar lokasi bencana. Dari kejauhan, tampak orang-orang berjejer, ada yang berdiri, ada pula yang berjongkok. Ponsel terangkat, kamera menyala, mulut komat-kamit merekam situasi.
Baca Juga: Hari Keenam Pencarian Longsor Cisarua, DVI Terima 3 Kantung Jenazah Baru
Namun mereka bukan jurnalis. Mereka adalah warga yang sengaja datang untuk melihat langsung lokasi longsor, fenomena yang oleh petugas disebut sebagai “wisata bencana”.
"Sebagian mengaku memiliki kerabat yang menjadi korban. Namun gelagatnya berbeda dengan keluarga korban yang tampak setia menunggu di posko DVI Polda Jabar, berharap menemukan kepastian nasib orang tercinta," kata Niko.
Niko menyebut petugas berkali-kali mengingatkan warga agar tidak mendekati area longsor. Bahaya masih mengintai dan potensi longsor susulan bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Sebetulnya dari jalan bawah sebelum lokasi kejadian itu sudah kami jaga. Anggota bersiaga, kami juga koordinasi dengan perangkat desa karena mereka yang tahu warga setempat. Apalagi sebagian warga di atas sudah dievakuasi," ujar Niko.
Niko menegaskan masyarakat diminta tidak datang ke lokasi bencana dengan mengaku sebagai keluarga korban jika hanya dilandasi rasa penasaran.
"Jangan sampai ada kesan warga malah berwisata bencana. Jangan juga menyebarkan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Biarkan rekan-rekan jurnalis yang bekerja sesuai tupoksinya," tegasnya.
Selain membahayakan diri sendiri, kehadiran warga juga berdampak pada operasional petugas. Arus lalu lintas di sekitar posko pengungsian dan posko DVI kerap tersendat. Ambulans pengangkut jenazah pun beberapa kali terhambat keluar masuk lokasi.
"Ketika banyak kendaraan datang, ambulans dan kendaraan SAR jadi sulit bergerak. Padahal yang harus diprioritaskan adalah penanganan bencana dan evakuasi korban," tuturnya.
