Para pemujanya menggambarkan bagaimana logika pasar bebas begitu all out (totaalvoetbal) dalam mencengkeram republik. Akhirnya semua moral, bahaya, dan bahkan kematiannya dapat dikonversi menjadi transaksi yang menguntungkan bagi mereka.
Dalam kerangka ini, neoliberalisme tidak runtuh karena diserang dari luar, tetapi ia rakus menjual segala sesuatu, termasuk benih kehancurannya sendiri.
Secara kritis, kalimat ini juga menunjukkan bahwa neoliberalisme tidak memiliki kesetiaan pada nilai, ide, atau masa depannya. Mereka hanya beriman pada laba (kemaruk angka dan benda). Kita tahu, jika ada permintaan, maka akan ada penawaran, tak peduli seberapa destruktif akibatnya.
Sistem ini tidak menolak ancaman, ia justru memanfaatkannya semaksimal dan sepuas-puasnya. Bahkan perlawanan terhadapnya bisa dipaketkan, dijual dan dikonsumsi sebagai produk, hingga kehilangan daya revolusionernya.
Ini semua menjadi peringatan bagi mereka yang ingin melawan kejahatannya: jika perlawanan hanya berhenti pada simbol, slogan, atau konsumsi, maka semua akan segera diserap kembali oleh sistem yang dilawannya.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Di Atas Bendera Ekonomi Korupsi
Dus, revolusi yang tidak mengubah kesadaran, struktur dan fungsi hanya akan menjadi komoditas baru yang laku keras, viral, tapi pada akhirnya jinak dan tak lagi berbahaya. Sebagian bahkan kapok dan mengkhianati kawan seperjuangan. Dengan kultur neoliberal, kini kita hidup di zaman kapasitas dihina dan "isi tas" dipuja.
