Wabah Virus Nipah di India Jadi Peringatan Global, Penularan Terjadi dari Hewan ke Manusia

Senin 26 Jan 2026, 17:12 WIB
Wabah Virus Nipah Kembali Muncul di India, Ancaman Zoonosis Mematikan Tanpa Vaksin Jadi Sorotan Dunia (Sumber: Pinterest)

Wabah Virus Nipah Kembali Muncul di India, Ancaman Zoonosis Mematikan Tanpa Vaksin Jadi Sorotan Dunia (Sumber: Pinterest)

POSKOTA.CO.ID - Wabah virus Nipah kembali dilaporkan di India dan menimbulkan kekhawatiran global. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi lima kasus infeksi yang melibatkan tenaga medis, termasuk seorang dokter, seorang perawat, dan satu petugas kesehatan lainnya.

Virus Nipah dikenal sebagai patogen zoonosis dengan tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan spesifik.

Salah satu kasus paling serius menimpa seorang perawat yang kini berada dalam kondisi koma. Ia diduga terinfeksi saat merawat pasien dengan gejala pernapasan berat, sebuah pola yang kerap muncul pada infeksi Nipah tahap lanjut.

Melansir dari nexta_tv, pemerintah setempat telah melakukan pelacakan intensif terhadap sekitar 180 orang kontak erat, dengan 20 orang menjalani karantina sebagai langkah pencegahan.

“Penularan antar manusia memang dimungkinkan, terutama dalam lingkungan perawatan kesehatan jika protokol ketat tidak dijalankan,” ujar pejabat kesehatan setempat dalam pernyataan resmi dikutip Senin, 26 Januari 2026.

Baca Juga: Siapa Sosok Sienna Rose Sebenarnya? Penyanyi yang Ramai Disebut sebagai AI

Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Sangat Berbahaya?

Virus Nipah (NiV) pertama kali diidentifikasi pada 1998–1999 dan sejak itu menjadi perhatian serius komunitas kesehatan global. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Nipah termasuk dalam daftar priority diseases karena tingkat fatalitasnya yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada kapasitas sistem kesehatan dan respons dini.

Virus ini dapat menyebabkan penyakit asimtomatik, namun pada banyak kasus berkembang menjadi infeksi pernapasan akut dan ensefalitis (radang otak).

Gejala awal umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan, sebelum berkembang menjadi gangguan pernapasan, kejang, hingga penurunan kesadaran.

WHO menyatakan, “Tidak ada pengobatan spesifik atau vaksin berlisensi untuk virus Nipah. Perawatan bersifat suportif dan bergantung pada deteksi serta penanganan dini.”

Peran Kelelawar sebagai Sumber Penularan

Di India dan sejumlah negara Asia Selatan, kelelawar buah (Pteropus) diyakini sebagai reservoir alami virus Nipah. Penularan dapat terjadi dari hewan ke manusia, baik melalui kontak langsung dengan kelelawar, konsumsi buah atau nira kurma yang terkontaminasi, maupun melalui penularan antar manusia.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menjelaskan bahwa wabah Nipah sebelumnya kerap terjadi di wilayah dengan interaksi dekat antara manusia, satwa liar, dan ternak. Lingkungan padat penduduk serta mobilitas tinggi memperbesar risiko penyebaran.

“Transmisi nosokomial penularan di fasilitas kesehatan menjadi tantangan utama jika alat pelindung diri tidak digunakan secara optimal,” tulis CDC dalam laporan teknisnya.

Baca Juga: Cek Jadwal Pemadaman Listrik Senin 26 Januari 2026, Ini Daftar Wilayah yang Terdampak di Indonesia

Dampak terhadap Tenaga Kesehatan dan Sistem Medis

Kasus terbaru di India kembali menegaskan bahwa tenaga kesehatan berada di garis depan risiko. Infeksi pada dokter dan perawat bukan hanya berdampak pada keselamatan individu, tetapi juga pada ketahanan sistem layanan kesehatan. Ketika tenaga medis terpapar, kapasitas penanganan pasien lain ikut terancam.

Pemerintah daerah telah memperketat protokol pengendalian infeksi, termasuk penggunaan APD, pembatasan kunjungan rumah sakit, serta edukasi publik. Langkah-langkah ini penting untuk mencegah skenario terburuk seperti yang pernah terjadi pada wabah global sebelumnya.

Komentar publik yang berharap “tahun 2026 menjadi seperti 2016, bukan 2019” mencerminkan trauma kolektif akibat pandemi COVID-19. Meski virus Nipah berbeda secara karakteristik, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi wabah lokal yang meluas.

Para ahli epidemiologi menekankan pentingnya surveilans dini, transparansi data, dan kerja sama internasional. Investasi pada riset vaksin dan terapi juga menjadi kebutuhan mendesak, mengingat virus zoonosis diperkirakan akan terus muncul seiring perubahan lingkungan dan iklim.

Sebagaimana ditegaskan WHO, “Pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons cepat adalah kunci untuk mengurangi dampak wabah penyakit menular berbahaya.”


Berita Terkait


News Update