POSKOTA.CO.ID - Wabah virus Nipah kembali dilaporkan di India dan menimbulkan kekhawatiran global. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi lima kasus infeksi yang melibatkan tenaga medis, termasuk seorang dokter, seorang perawat, dan satu petugas kesehatan lainnya.
Virus Nipah dikenal sebagai patogen zoonosis dengan tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan spesifik.
Salah satu kasus paling serius menimpa seorang perawat yang kini berada dalam kondisi koma. Ia diduga terinfeksi saat merawat pasien dengan gejala pernapasan berat, sebuah pola yang kerap muncul pada infeksi Nipah tahap lanjut.
Melansir dari nexta_tv, pemerintah setempat telah melakukan pelacakan intensif terhadap sekitar 180 orang kontak erat, dengan 20 orang menjalani karantina sebagai langkah pencegahan.
“Penularan antar manusia memang dimungkinkan, terutama dalam lingkungan perawatan kesehatan jika protokol ketat tidak dijalankan,” ujar pejabat kesehatan setempat dalam pernyataan resmi dikutip Senin, 26 Januari 2026.
Baca Juga: Siapa Sosok Sienna Rose Sebenarnya? Penyanyi yang Ramai Disebut sebagai AI
Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Sangat Berbahaya?
Virus Nipah (NiV) pertama kali diidentifikasi pada 1998–1999 dan sejak itu menjadi perhatian serius komunitas kesehatan global. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Nipah termasuk dalam daftar priority diseases karena tingkat fatalitasnya yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada kapasitas sistem kesehatan dan respons dini.
Virus ini dapat menyebabkan penyakit asimtomatik, namun pada banyak kasus berkembang menjadi infeksi pernapasan akut dan ensefalitis (radang otak).
Gejala awal umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan, sebelum berkembang menjadi gangguan pernapasan, kejang, hingga penurunan kesadaran.
WHO menyatakan, “Tidak ada pengobatan spesifik atau vaksin berlisensi untuk virus Nipah. Perawatan bersifat suportif dan bergantung pada deteksi serta penanganan dini.”
Peran Kelelawar sebagai Sumber Penularan
Di India dan sejumlah negara Asia Selatan, kelelawar buah (Pteropus) diyakini sebagai reservoir alami virus Nipah. Penularan dapat terjadi dari hewan ke manusia, baik melalui kontak langsung dengan kelelawar, konsumsi buah atau nira kurma yang terkontaminasi, maupun melalui penularan antar manusia.
