Tips Bijak Menggunakan Paylater Biar Tak Terjebak Utang

Sabtu 24 Jan 2026, 14:49 WIB
Ilustrasi manfaat dan risiko dari paylater. (Sumber: Bank Saqu)

Ilustrasi manfaat dan risiko dari paylater. (Sumber: Bank Saqu)

POSKOTA.CO.ID - “Beli Sekarang Bayar Nanti” atau Paylater menjadi trend yang memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi belanja.

Kemudahan transaksi tanpa perlu uang tunai membuat layanan paylater banyak diminati masyarakat.

Fitur paylater saat ini hadir hampir di setiap platform belanja, perjalanan bahkan hingga hiburan.

Kemudahan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hanya dengan beberapa klik.

Namun, di balik kemudahannya tersebut, risiko penumpukan utang juga mengintai. Tanpa ada perencanaan matang, paylater yang awalnya membantu justru dapat menjadi beban finansial jangka panjang karena memiliki potensi menjerat pengguna dalam masalah utang berkepanjangan.

Baca Juga: Fitur Rahasia! Begini Cara Pinjam Saldo di Aplikasi DANA Tanpa Perlu Dana PayLater, Limit hingga Rp20 Juta Langsung Cair

Utang Paylater Capai Rp30 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total utang dari layanan paylater sudaj menembus angka fantastis yakni lebih dari Rp30 triliun.

Melihat lonjakan ini, OJK kemudian memperketat syarat penggunaan layanan tersebut.

Dalam kebijakan baru ini, pengguna paylater harus berusia minimal 18 tahun dan memiliki penghasilan tetap minimal sebesar Rp3 juta per bulan.

Kebijakan ini bertujuan agar para pengguna paylater adalah mereka yang secara finansial sudah memiliki kemampuan membayar dan bukan hanya mengikuti gaya hidup konsumtif. 

Baca Juga: Heboh Lunasi Utang di Shopee PayLater dan Shopee Pinjam Tanpa Bayar, Begini Faktanya

Tips Bijak Penggunaan Paylater

Berikut adalah cara bijak penggunaan paylater yang dilansir dari laman resmi marketeers.com.

  1. Sesuaikan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum menekan tombol “bayar dengan paylater”, cobalah tanyakan pada diri sendiri apakah Anda benar-benar membutuhkan barang ini sekarang, atau apakah ini penting untuk pekerjaan, sekolah, maupun kebutuhan rumah tangga.

Menurut Lauren Bringle, konselor keuangan terakreditasi di Self Financial, paylater sebaiknya digunakan untuk pembelian yang terencana, seperti membelikan laptop untuk kuliah atau peralatan rumah tangga yang mendesak, bukan sekadar mengikuti tren atau keinginan sesaat.

  1. Beri Jeda sebelum Membeli

Erika Rasure, penasihat keuangan dari Beyond Finance memberikan saran untuk berhenti sejenak sebelum memutuskan menggunakan paylater. Jika Anda termasuk tipe pembelanja emosional, memberi jeda waktu akan membantu menilai apakah pembelian tersebut benar-benar penting.

“Ingat, cicilan paylater akan menambah beban tagihan bulanan, terutama jika Anda sudah memiliki kewajiban lain seperti kartu kredit atau pinjaman pendidikan,” ujarnya. dikutip

  1. Baca Syarat dan Ketentuan

Setiap layanan paylater memiliki aturan berbeda, mulai dari biaya administrasi, jadwal pembayaran, hingga konsekuensi jika terlambat membayar. Michael Savino, kepala pinjaman di Municipal Credit Union, menekankan pentingnya membaca detail perjanjian agar tidak terjebak biaya tersembunyi atau denda yang membengkak.

  1. Hindari Menumpuk Cicilan

Memiliki dua atau lebih cicilan paylater sekaligus bisa membuat pengeluaran sulit dikendalikan. Savino mengingatkan bahwa makin banyak tanggal jatuh tempo yang harus diingat, kian besar risiko Anda terlambat membayar.

“Batasi jumlah pinjaman dan fokus pada pelunasan satu per satu agar keuangan tetap terkendali,” sarannya.

  1. Pantau Semua Tagihan

Mengingat paylater umumnya menggunakan sistem pembayaran otomatis, pastikan saldo rekening Anda selalu cukup saat cicilan ditarik.

Gunakanlah pengingat di kalender, aplikasi keuangan, atau catatan manual untuk memantau jadwal pembayaran. Dengan begitu, Anda terhindar dari denda dan catatan buruk pada skor kredit.


Berita Terkait


News Update