Karena dari sana kita dapat paham bagaimana “mimpi makmur” dapat diraih. Dan, semua itu hanya dapat terwujud dengan satu syarat, yakni kekuatan alternatif (kaum muda visioner-konsisten) harus bersatu solid memperkuat diri dan memenangkan hati, harapan, dan keyakinan rakyat.
Kekuatan alternatif yang senyatanya sedang dan terus dinanti-nantikan oleh rakyat nusantara. Gerak kinerja baru (agensi, agenda, lembaga) ini merupakan road map menuju kebaikan bagi semua orang yang punya maksud baik di negeri ini.
Tanpa itu, warga kebanyakan hanya merasakan paradoks ekonomi yang semakin nyata: angka-angka makro terlihat tumbuh, namun kehidupan sehari-hari justru kian berat. Negara rajin memamerkan pertumbuhan, investasi, dan penerimaan pajak, tetapi rakyat kecil kebanyakan berjuang keras mempertahankan daya hidupnya.
Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya pendidikan dan kesehatan semakin mencekik, sementara pendapatan tidak bergerak sebanding dengan kebutuhan dasar. Repotnya, dalam situasi seperti ini, pajak justru tampil sebagai prioritas negara, bukan perlindungan terhadap rakyat yang semakin terdesak.
Singkatnya, perubahan yang baik adalah perubahan yang menciptakan pro dan kontra para pengamat dan warga nusantara. Pihak kontra adalah para plutokrat dan gerontokrat di negeri kita, sedangkan pro adalah para patriot dan pasukan republik.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomisasi Rempah
Pada akhirnya, ekonomi kemakmuran tidak boleh hanya mimpi, ia harus menginspirasi dan memotivasi tetapi juga mengintruksi kita untuk berbuat. Sekarang dan seterusnya.
Mari kita saling memperkuat persatuan agensi, agenda, kelembagaan tersebut, dengan keyakinan, rendah hati, pengorbanan, solidaritas, demi kebaikan dan kesejahteraan, kemakmuran dan kesentosaan rakyat nusantara.
